Jumat, 27 Juli 2012

Anita Meriza “Mencintai Budaya Itu Indah”


Anita Meriza tatapan mata fokus kedepan menggambarkan indahnya budaya
Sosok Anita Meriza

Mencintai budaya sama halnya dengan mencintai orang yang kita sayang. Kita tak akan tau betapa indah, betapa kaya, betapa agungnya kebudayaan yang kita punya jika kita tak menyatu dengannya. 

Begitu juga dengan cinta, harus menyatu dulu untuk bisa merasa. Mau seberapa besar kebudayaan kita tergeser oleh modernisasi budaya barat. Ia akan tetap terlihat cantik dan menawan bila kita benar-benar sudah menyatu dengannya,” kata Anita Meriza yang biasa dipanggil Mery.





Anggota Dewan Partai Demokrat Sumenep Minta Konflik Diselesaikan

KH. Kurdi HA, Anggota DPRD Sumenep dari Partai Demokrat (PD)

Sumenep – Anggota DPRD Kabupaten Sumenep KH. A. Kurdi HA., meminta persoalan atau konflik di internal DPC Partai Demokrat (PD) Kab. Sumenep diselesaikan dengan baik-baik. Sekretaris Fraksi Keadilan Demokrasi (FKD) ini menilai persoalan tersebut harusnya diselesaikan di internal saja dan jangan sampai dibawa ke kepolisian.

“Saya pikir persoalan yang terjadi, hanyalah miskomunikasi saja, jangan sampai dibawah keranah hukum. Namanya saja kan Partai Demokrat, jadi selesaikanlah secara demokratis dan melalui musyawarah,” kata KH. A. Kurdi HA, saat ditemui di kantor DPRD Sumenep, Selasa siang (01/05).

Pengurus Demokrat Sumenep (Dimisioner) Dukung Laporan ke Polisi

Achsanul Qosasi (kiri) Ketua Dimisioner dan Abd Azis Salim Syabibi (kanan) Sekretaris Dimisioner DPC Partai Demokrat Kab. Sumenep dalam acara Pengukuhan 27 PAC PD Kab. Sumenep beberapa waktu lalu

Sumenep – Abd Azis Salim Syabibi, Sekretaris DPC Partai Demokrat (PD) Dimisioner Kab. Sumenep, menyatakan, mendukung langkah Yusuf Ismail untuk melaporkan Saudara R. Djoni Tunaidi alias Joni ke kepolisian. Yusuf Ismail, Ketua Panitia Muscab II DPC PD Kab Sumenep melaporkan Joni ke Polres Sumenep, Selasa siang (25/4). Laporan itu menyangkut dugaan pencemaran nama baik dan penggelapan dana.

Ketua Demokrat Terpilih Bantah Tudingan Pencemaran Nama Baik dan Penggelapan

R. Djoni Tunaidi Ketua terpilih berbincang bersama Achmad Iskandar Bendahara DPD PD Jatim dalam acara serap aspirasi di Pamekasan beberapa waktu lalu

Sumenep - R. Djoni Tunaidi alias Joni, Ketua DPC Partai Demokrat (PD) Kab. Sumenep terpilih hasil Muscab II DPC PD membantah tudingan Yusuf Ismail. Terkait dugaan pencemaran nama baik dan penggelapan dana partai. Yusuf Ismail, Ketua Panitia Muscab II DPC PD Kab Sumenep ini melaporkan Joni ke Polres Sumenep, Selasa siang (25/4).

“Semua tuduhan dan tudingan saudara Yusuf Ismail tidak ada dasarnya. Saya tak pernah menyerang pribadi Yusuf Ismail baik publikasi media atau dimanapun. Segala langkah saya hanya dalam rangka menyelamatkan aset dan perbaikan partai kedepan,” ujar Joni saat dihubungi, Selasa sore (25/4) melalui telepon selulernya.

Kamis, 26 Juli 2012

Pengurus Demokrat Sumenep Laporkan Calon Ketua ke Polisi


Yusuf Ismail ditemani Ketua-Ketua PAC PD di Polres Sumenep


Sumenep - Ir. H. Yusuf Ismail, Ketua Panitia Muscab II DPC Partai Demokrat (PD) Kab. Sumenep, melaporkan R. DJoni Tunaidi alias Joni, salah satu calon kandidat ketua DPC PD Sumenep ke pihak kepolisian. Joni diduga telah melakukan difitnah terkait hasil laporan pertanggungjawaban Muscab. Selain itu Joni juga dilaporkan terkait dugaan penggelapan dana partai sebesar 22 juta rupiah.

Hal ini disampaikan Yusuf Ismail, Selasa siang (25/4) saat berada di kantor Polres Sumenep, Jl. Urip Sumoharjo, Pabian, Sumenep.



Kebudayaan Sumenep Perlu Dilestarikan

Rosita Dewi Cintai Budaya dan Tradisi Sumenep

Sosok Rosita Dewi

Objek pariwisata di Kabupaten Sumenep perlu dipertahankan dan dilestarikan sebagai wujud kepedulian terhadap nilai-nilai kebudayaan. Mengingat saat ini sudah banyak objek wisata yang kurang terawat dengan baik. Lain lagi banyaknya peninggalan cagar budaya mulai rusak dan hilang.

Kegundahan ini disampaikan Rosita Dewi, gadis cantik kelahiran Sumenep, 25 Maret 1991. Menurutnya, banyak sekali objek wisata yang rusak dan mulai punah. Hal ini mungkin luput dari perhatian banyak pihak termasuk pemerintah Kab. Sumenep.

Sebagai Guru Muda, Dirinya Harap-Harap Cemas

Tampak Sherly menatap penuh senyum walaupun dinding sekolahnya menggambarkan dirinya yang harap-harap cemas

Sosok Nuris Sarli Asmarani 

Gadis manis ini memiliki nama panjang Nuris sarli Asmarani. Ia biasa dipanggil Sherly oleh murid dan teman-temen guru tempat mengajar di Yayasan Pendidikan Islam Al Ikhlas, Kecamatan Konang Kabupaten Bangkalan. Sebagai mahasiswi yang masih menjalani proses pendidikan di salah satu Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di IKIP Boedi Oetomo Malang.

Perempuan kelahiran Bangkalan, 30 Juni 1989 ini juga mengabdikan diri sebagai guru sukarelawan yang terletak di desa pedalaman dengan akses jalannya cukup menantang.

Sabtu, 28 April 2012

Satu “Kartini Cerdas” di Panggung Parlementaria

Siti Fathonah Rachmaniyah Kartini Cerdas di panggung parlementaria

Sosok Siti Fathonah Rachmaniyah, 

Perempuan cantik berjilab ini merupakan satu-satunya “Kartini Muda dan Cerdas” yang tampil di pentas panggung palementeria. Ia merupakan satu perempuan diantara 45 anggota DPRD Kab. Bangkalan periode 2009-2014. Ia tak pernah merasa minder bergaul dan berjuang bersama komunitas kaum hawa.

“Bagi saya yang terpenting sebagai perempuan, kita harus mampu menujukkan karakter dan jati dirinya. Jangan pernah terombang-ambing oleh situasi dan keadaan,” kata Siti yang biasa dipanggil oleh keluarga dan teman-temannya.

Silvi: Tak Pernah Berhenti Mencintaimu


Sosok Silvhie Rachma Yulitha penuh aura dan pesona


Sosok Silvhie Rachma Yulitha

“Aku tak akan pernah berhenti mencintaimu meskipun sakit hati ini, karena lebih baik aku diam seribu bahasa. Aku tetap mencintaimu sampai kapanpun, meskipun asa ini hanya milikku.” 
Kalimat inilah yang terlontar dari bibir Silvhie Rachma Yulitha atau yang biasa dipanggil Silvi. Perempuan manis dan cantik, kelahiran Bogor, 24 Juli 1983. Ia menyatakan, kesetiaannya pada cinta walaupun harus menahan sakit. 
“Cinta harus dikatakan cinta, bukan sebaliknya. Walaupun orang yang kita cintai belum tentu mencintaiku. Sebab aku tak akan pernah berhenti mencintaimu, meskipun sakit hati ini,” kata Silvi dengan penuh optimisme meraih cinta.
Gadis yang saat ini bekerja di SIS Koperasi, Jakarta, sejak 2011 ini mengatakan, rasa rindu ini bercengkrama menggugah jiwa dan aku tak dapat mengelak lagi. Bahwa memang aku benar-benar merindukanmu.
“Kalau memang sudah rindu jangan ditahan lagi, segera ungkapkan saja. Nanti malah berbahaya loe..” terang profesional muda yang pernah bekerja di PT Swanish Bakery dan PT Megaria Mas Sentosa ini.
Silvi sebagai perempuan yang juga pernah marah ini, memiliki tiga hal yang tidak disuka. Diantaranya, dibohongin, digentak dan bergaul sama orang yang pelit.
“Adakah orang lain selain dirimu. Adakah cinta lain selain dirimu..? Nah loe pikir dech tuh. Loe yang mane,” terang Silvi berharap teman-temen-nya mengerti pada hal yang tidak disukainya.
Silvi sebagai orang yang banyak makan garam dalam pekerjaaan ini memiliki sebuah motto hidup. Motto tersebut yaitu, kesabaran serta keikhlasan adalah kunci dalam menjalani hidup ini. 



Tampak Silvhie Rachma Yulitha di atas perahu dengan baju batik
“Tanpa kedua kalimat di atas sulit kita meraih kesuksesan,” pungkas Silvi yang juga pernah bekerja di PT Laros Cosmetick dam PT Cospar Sentosa Jaya. 

Selain itu, Silvi yang senang dengan baju batik dan menyukai olahraga bilyard ini mengutarakan kebanggaannya pada dirinya sendiri. Bahkan ia pernah mengatakan, aku manis sekali dan aku cantik sekali.
“……lihat lah dan lihat semua. Pasti yang komentar pasti sirik semua, karena kecantikanku ini belum memudar,” ujar Silvi percaya diri. (rud)
Foto: Documen Silvhie Rachma Yulitha

Menulis untuk Tugas Sejarah

 
Oleh Syafrudin Budiman, SIP 
(Pimred www.liputanmadura.com)
Sosok Yazid R Passandre dilirik sejak dirinya menulis Novel Lumpur, Trilogi Tanah dan Cinta. Ia menceritakan tragedi semburan lumpur panas di Porong dan kisah duka derita korban.
Catatan kelam yang diringkas dalam sebuah novel ini mendadak laris dan banyak diburu orang. Mulai dari para korban, aktifis LSM, mahasiswa, dosen, dan politisi. Bahkan, para pejabat yang tangannya masih berlumuran lumpur Lapindo,  ikut pula membaca karyanya.
Yazid, panggilan pendeknya. Sosok pria penuh optimisme ini lahir 9 Januari 1978 dan dibesarkan di Pulau Sapeken, Sumenep, Jawa Timur. Sejak kecil hingga tamat Madrasah Tsanawiyah di Pesantren Abu Hurairah, ia menghabiskan waktunya di Pulau Sapeken, sebuah pulau mungil yang terletak di gugusan timur kepulauan Madura.
Yazid pernah berfikir untuk tidak melanjutkan sekolah formal dan pergi ke Bandung menyusul kakaknya. Beberapa bulan tinggal di Kota Kembang itu, sang kakak menyarankan agar Yazid mondok lagi di sebuah pesantren di Solo. Setahun nyantri di Pesantren Al-Mukmin Sukaharjo, Solo, Yazid hijrah ke Yogyakarta dan meneruskan sekolahnya di SMU Muhammadiyah.
“Saya mengenyam kegetiran dan lika-liku hidup sejak kanak sebagai orang pulau yang sehari-hari tinggal di tepi laut. Menimba secara langsung spirit kehidupan dari ayah, dan belajar tentang filosofi hidup dari laut: berpikir luas dan dalam, serta sanggup memangku beban.” Ujar Yazid mengenang kampung halamannya.
Selama sekolah di Yogyakarta, Yazid mulai berkenalan dengan dunia tulis menulis dan beberapa kali menjuarai lomba menulis seperti resensi buku dan karya tulis ilmiah. Yazid yang menyukai aktivitas volunteer aktif pula berorganisasi. Ia sempat mengabdi sebagai Direktur Eksekutif Pusat Pengembangan dan Pengkajian Strategi Dakwah Remaja (P3SDR) Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah.
Meskipun duduk di bangku sekolah menengah, Yazid tak canggung berkecimpung dan menggeluti pengalaman organisasi yang tidak lumrah bagi remaja seusianya waktu itu.
“Dalam hidup yang paling menentukan bukan usia atau jenjang pendidikan, tapi pola pikir. Saya yakin, usia tidak masuk daftar syarat kematangan dan keberhasilan. Hidup ini terlalu singkat untuk menunggu hal-hal besar yang bisa kita perbuat hari ini,” ungkap Yazid.
Anak ketiga dari pasangan H.M. Muhammad Ali Daeng Sandre dan Hj. Fauziah Badrul ini belum mengenyam pendidikan perguruan tinggi, karena segera memutuskan untuk langsung bergiat dalam dunia interpreneur. Beberapa tahun lamanya aktivitas kepenulisannya mandeg karena kesibukan Yazid bertualang dalam dunia usaha.
Pada usianya yang masih muda (27 tahun), Yazid sudah mengukir prestasi usaha yang cukup gemilang, meski beberapa tahun kemudian perumahan Alam Songsong Permai yang dikembangkannya di sebuah kawasan di Madura mengalami kemacetan. 
“Usaha itu memang sempat macet, tapi saya tidak merasa gagal. Saya yakin semua bisa ditata kembali untuk dilanjutkan dengan cara yang lebih baik. Saya mengalami kesulitan bukan karena terlalu cepat meraih keberhasilan, tapi karena memang ada yang salah dalam mengelola keberhasilan itu. Tentu, ini pengalaman berharga untuk meraih mimpi-mimpi saya yang tertunda,” tutur yazid.
Namun, di sela-sela masa sulitnya itulah Yazid menemukan mutiara yang hilang. Berawal dari kerinduannya kepada sosok kakeknya, Yazid kemudian memutuskan untuk menulis buku biografi sang kakek. Buku tersebut terbit dengan judul: DAENG SANDRE, Kilas Jejak Sang Pemimpin. Perjalanan sang kakek dan pengalaman kepemimpinannya sebagai kepala desa hingga akhir hayat, Yazid tumpah-tuturkan dalam buku itu.
“Keindahan yang saya rasakan dalam menulis adalah karunia besar yang Tuhan anugerahkan secara diam-diam ke dalam hidup saya. Saya tidak punya alasan untuk tidak mensyukurinya.” Kata pria penuh pesona ini.
Setahun berikutnya, Yazid menerbitkan buku kedua berbentuk novel dengan judul Tonggak Sang Pencerah (TSP). Novel sejarah yang menuturkan perjalanan hidup KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, ini Yazid tulis sebagai karya persembahan untuk mengenang jasa-jasa perjuangan sosok Pahlawan Kususma Bangsa dari Kauman itu bertepatan dengan momentum Muktamar Satu Abad Muhammadiyah (2010).
Pada 12 November 2011, Yazid melaunching Novel Lumpur. Ia mengaku bangga dengan ketiga buku yang telah ditulisnya itu, dan selalu mengatakan bahwa menulis adalah tugas sejarah yang harus terus dilanjutkan. “Dengan karya tulis, saya mengabdi kepada Tuhan, berbakti kepada kemanusiaan dan kehidupan.” (rud)