Jumat, 27 Juli 2012

Ketua Demokrat Terpilih Bantah Tudingan Pencemaran Nama Baik dan Penggelapan

R. Djoni Tunaidi Ketua terpilih berbincang bersama Achmad Iskandar Bendahara DPD PD Jatim dalam acara serap aspirasi di Pamekasan beberapa waktu lalu

Sumenep - R. Djoni Tunaidi alias Joni, Ketua DPC Partai Demokrat (PD) Kab. Sumenep terpilih hasil Muscab II DPC PD membantah tudingan Yusuf Ismail. Terkait dugaan pencemaran nama baik dan penggelapan dana partai. Yusuf Ismail, Ketua Panitia Muscab II DPC PD Kab Sumenep ini melaporkan Joni ke Polres Sumenep, Selasa siang (25/4).

“Semua tuduhan dan tudingan saudara Yusuf Ismail tidak ada dasarnya. Saya tak pernah menyerang pribadi Yusuf Ismail baik publikasi media atau dimanapun. Segala langkah saya hanya dalam rangka menyelamatkan aset dan perbaikan partai kedepan,” ujar Joni saat dihubungi, Selasa sore (25/4) melalui telepon selulernya.

Kamis, 26 Juli 2012

Pengurus Demokrat Sumenep Laporkan Calon Ketua ke Polisi


Yusuf Ismail ditemani Ketua-Ketua PAC PD di Polres Sumenep


Sumenep - Ir. H. Yusuf Ismail, Ketua Panitia Muscab II DPC Partai Demokrat (PD) Kab. Sumenep, melaporkan R. DJoni Tunaidi alias Joni, salah satu calon kandidat ketua DPC PD Sumenep ke pihak kepolisian. Joni diduga telah melakukan difitnah terkait hasil laporan pertanggungjawaban Muscab. Selain itu Joni juga dilaporkan terkait dugaan penggelapan dana partai sebesar 22 juta rupiah.

Hal ini disampaikan Yusuf Ismail, Selasa siang (25/4) saat berada di kantor Polres Sumenep, Jl. Urip Sumoharjo, Pabian, Sumenep.



Kebudayaan Sumenep Perlu Dilestarikan

Rosita Dewi Cintai Budaya dan Tradisi Sumenep

Sosok Rosita Dewi

Objek pariwisata di Kabupaten Sumenep perlu dipertahankan dan dilestarikan sebagai wujud kepedulian terhadap nilai-nilai kebudayaan. Mengingat saat ini sudah banyak objek wisata yang kurang terawat dengan baik. Lain lagi banyaknya peninggalan cagar budaya mulai rusak dan hilang.

Kegundahan ini disampaikan Rosita Dewi, gadis cantik kelahiran Sumenep, 25 Maret 1991. Menurutnya, banyak sekali objek wisata yang rusak dan mulai punah. Hal ini mungkin luput dari perhatian banyak pihak termasuk pemerintah Kab. Sumenep.

Sebagai Guru Muda, Dirinya Harap-Harap Cemas

Tampak Sherly menatap penuh senyum walaupun dinding sekolahnya menggambarkan dirinya yang harap-harap cemas

Sosok Nuris Sarli Asmarani 

Gadis manis ini memiliki nama panjang Nuris sarli Asmarani. Ia biasa dipanggil Sherly oleh murid dan teman-temen guru tempat mengajar di Yayasan Pendidikan Islam Al Ikhlas, Kecamatan Konang Kabupaten Bangkalan. Sebagai mahasiswi yang masih menjalani proses pendidikan di salah satu Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di IKIP Boedi Oetomo Malang.

Perempuan kelahiran Bangkalan, 30 Juni 1989 ini juga mengabdikan diri sebagai guru sukarelawan yang terletak di desa pedalaman dengan akses jalannya cukup menantang.

Sabtu, 28 April 2012

Satu “Kartini Cerdas” di Panggung Parlementaria

Siti Fathonah Rachmaniyah Kartini Cerdas di panggung parlementaria

Sosok Siti Fathonah Rachmaniyah, 

Perempuan cantik berjilab ini merupakan satu-satunya “Kartini Muda dan Cerdas” yang tampil di pentas panggung palementeria. Ia merupakan satu perempuan diantara 45 anggota DPRD Kab. Bangkalan periode 2009-2014. Ia tak pernah merasa minder bergaul dan berjuang bersama komunitas kaum hawa.

“Bagi saya yang terpenting sebagai perempuan, kita harus mampu menujukkan karakter dan jati dirinya. Jangan pernah terombang-ambing oleh situasi dan keadaan,” kata Siti yang biasa dipanggil oleh keluarga dan teman-temannya.

Silvi: Tak Pernah Berhenti Mencintaimu


Sosok Silvhie Rachma Yulitha penuh aura dan pesona


Sosok Silvhie Rachma Yulitha

“Aku tak akan pernah berhenti mencintaimu meskipun sakit hati ini, karena lebih baik aku diam seribu bahasa. Aku tetap mencintaimu sampai kapanpun, meskipun asa ini hanya milikku.” 
Kalimat inilah yang terlontar dari bibir Silvhie Rachma Yulitha atau yang biasa dipanggil Silvi. Perempuan manis dan cantik, kelahiran Bogor, 24 Juli 1983. Ia menyatakan, kesetiaannya pada cinta walaupun harus menahan sakit. 
“Cinta harus dikatakan cinta, bukan sebaliknya. Walaupun orang yang kita cintai belum tentu mencintaiku. Sebab aku tak akan pernah berhenti mencintaimu, meskipun sakit hati ini,” kata Silvi dengan penuh optimisme meraih cinta.
Gadis yang saat ini bekerja di SIS Koperasi, Jakarta, sejak 2011 ini mengatakan, rasa rindu ini bercengkrama menggugah jiwa dan aku tak dapat mengelak lagi. Bahwa memang aku benar-benar merindukanmu.
“Kalau memang sudah rindu jangan ditahan lagi, segera ungkapkan saja. Nanti malah berbahaya loe..” terang profesional muda yang pernah bekerja di PT Swanish Bakery dan PT Megaria Mas Sentosa ini.
Silvi sebagai perempuan yang juga pernah marah ini, memiliki tiga hal yang tidak disuka. Diantaranya, dibohongin, digentak dan bergaul sama orang yang pelit.
“Adakah orang lain selain dirimu. Adakah cinta lain selain dirimu..? Nah loe pikir dech tuh. Loe yang mane,” terang Silvi berharap teman-temen-nya mengerti pada hal yang tidak disukainya.
Silvi sebagai orang yang banyak makan garam dalam pekerjaaan ini memiliki sebuah motto hidup. Motto tersebut yaitu, kesabaran serta keikhlasan adalah kunci dalam menjalani hidup ini. 



Tampak Silvhie Rachma Yulitha di atas perahu dengan baju batik
“Tanpa kedua kalimat di atas sulit kita meraih kesuksesan,” pungkas Silvi yang juga pernah bekerja di PT Laros Cosmetick dam PT Cospar Sentosa Jaya. 

Selain itu, Silvi yang senang dengan baju batik dan menyukai olahraga bilyard ini mengutarakan kebanggaannya pada dirinya sendiri. Bahkan ia pernah mengatakan, aku manis sekali dan aku cantik sekali.
“……lihat lah dan lihat semua. Pasti yang komentar pasti sirik semua, karena kecantikanku ini belum memudar,” ujar Silvi percaya diri. (rud)
Foto: Documen Silvhie Rachma Yulitha

Menulis untuk Tugas Sejarah

 
Oleh Syafrudin Budiman, SIP 
(Pimred www.liputanmadura.com)
Sosok Yazid R Passandre dilirik sejak dirinya menulis Novel Lumpur, Trilogi Tanah dan Cinta. Ia menceritakan tragedi semburan lumpur panas di Porong dan kisah duka derita korban.
Catatan kelam yang diringkas dalam sebuah novel ini mendadak laris dan banyak diburu orang. Mulai dari para korban, aktifis LSM, mahasiswa, dosen, dan politisi. Bahkan, para pejabat yang tangannya masih berlumuran lumpur Lapindo,  ikut pula membaca karyanya.
Yazid, panggilan pendeknya. Sosok pria penuh optimisme ini lahir 9 Januari 1978 dan dibesarkan di Pulau Sapeken, Sumenep, Jawa Timur. Sejak kecil hingga tamat Madrasah Tsanawiyah di Pesantren Abu Hurairah, ia menghabiskan waktunya di Pulau Sapeken, sebuah pulau mungil yang terletak di gugusan timur kepulauan Madura.
Yazid pernah berfikir untuk tidak melanjutkan sekolah formal dan pergi ke Bandung menyusul kakaknya. Beberapa bulan tinggal di Kota Kembang itu, sang kakak menyarankan agar Yazid mondok lagi di sebuah pesantren di Solo. Setahun nyantri di Pesantren Al-Mukmin Sukaharjo, Solo, Yazid hijrah ke Yogyakarta dan meneruskan sekolahnya di SMU Muhammadiyah.
“Saya mengenyam kegetiran dan lika-liku hidup sejak kanak sebagai orang pulau yang sehari-hari tinggal di tepi laut. Menimba secara langsung spirit kehidupan dari ayah, dan belajar tentang filosofi hidup dari laut: berpikir luas dan dalam, serta sanggup memangku beban.” Ujar Yazid mengenang kampung halamannya.
Selama sekolah di Yogyakarta, Yazid mulai berkenalan dengan dunia tulis menulis dan beberapa kali menjuarai lomba menulis seperti resensi buku dan karya tulis ilmiah. Yazid yang menyukai aktivitas volunteer aktif pula berorganisasi. Ia sempat mengabdi sebagai Direktur Eksekutif Pusat Pengembangan dan Pengkajian Strategi Dakwah Remaja (P3SDR) Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah.
Meskipun duduk di bangku sekolah menengah, Yazid tak canggung berkecimpung dan menggeluti pengalaman organisasi yang tidak lumrah bagi remaja seusianya waktu itu.
“Dalam hidup yang paling menentukan bukan usia atau jenjang pendidikan, tapi pola pikir. Saya yakin, usia tidak masuk daftar syarat kematangan dan keberhasilan. Hidup ini terlalu singkat untuk menunggu hal-hal besar yang bisa kita perbuat hari ini,” ungkap Yazid.
Anak ketiga dari pasangan H.M. Muhammad Ali Daeng Sandre dan Hj. Fauziah Badrul ini belum mengenyam pendidikan perguruan tinggi, karena segera memutuskan untuk langsung bergiat dalam dunia interpreneur. Beberapa tahun lamanya aktivitas kepenulisannya mandeg karena kesibukan Yazid bertualang dalam dunia usaha.
Pada usianya yang masih muda (27 tahun), Yazid sudah mengukir prestasi usaha yang cukup gemilang, meski beberapa tahun kemudian perumahan Alam Songsong Permai yang dikembangkannya di sebuah kawasan di Madura mengalami kemacetan. 
“Usaha itu memang sempat macet, tapi saya tidak merasa gagal. Saya yakin semua bisa ditata kembali untuk dilanjutkan dengan cara yang lebih baik. Saya mengalami kesulitan bukan karena terlalu cepat meraih keberhasilan, tapi karena memang ada yang salah dalam mengelola keberhasilan itu. Tentu, ini pengalaman berharga untuk meraih mimpi-mimpi saya yang tertunda,” tutur yazid.
Namun, di sela-sela masa sulitnya itulah Yazid menemukan mutiara yang hilang. Berawal dari kerinduannya kepada sosok kakeknya, Yazid kemudian memutuskan untuk menulis buku biografi sang kakek. Buku tersebut terbit dengan judul: DAENG SANDRE, Kilas Jejak Sang Pemimpin. Perjalanan sang kakek dan pengalaman kepemimpinannya sebagai kepala desa hingga akhir hayat, Yazid tumpah-tuturkan dalam buku itu.
“Keindahan yang saya rasakan dalam menulis adalah karunia besar yang Tuhan anugerahkan secara diam-diam ke dalam hidup saya. Saya tidak punya alasan untuk tidak mensyukurinya.” Kata pria penuh pesona ini.
Setahun berikutnya, Yazid menerbitkan buku kedua berbentuk novel dengan judul Tonggak Sang Pencerah (TSP). Novel sejarah yang menuturkan perjalanan hidup KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, ini Yazid tulis sebagai karya persembahan untuk mengenang jasa-jasa perjuangan sosok Pahlawan Kususma Bangsa dari Kauman itu bertepatan dengan momentum Muktamar Satu Abad Muhammadiyah (2010).
Pada 12 November 2011, Yazid melaunching Novel Lumpur. Ia mengaku bangga dengan ketiga buku yang telah ditulisnya itu, dan selalu mengatakan bahwa menulis adalah tugas sejarah yang harus terus dilanjutkan. “Dengan karya tulis, saya mengabdi kepada Tuhan, berbakti kepada kemanusiaan dan kehidupan.” (rud)

Kamis, 26 April 2012

Cerpen : Cinta Martina


“Tak peduli apa yang tengah dijalani,

jika seseorang benar-benar peduli kepadamu,

dia akan selalu temukan waktu untukmu.” (@pepatah)

“Bung Karno tak hanya bicara revolusi bro! Tapi juga bicara tentang cinta!” suaranya mengentak, memecah derai hujan memandikan lalang hijau di sekitar saung mungil tempat kami bercengkerama, berdiskusi, sambil lalu meretas mimpi-mimpi yang singgah di batok kepala kami.

Senja hampir pupus, sedangkan aku masih menatapnya. Pendar cahaya di bolamatanya meredup. Wajahnya beku. Ku coba mencari serpihan ketegaran dari sudut-sudut matanya yang kuyu. “Tapi bukan rasa yang meruntuhkan bro, atau yang memadamkan api revolusi.” Kataku, lirih menyahuti entakan kata-katanya.

Mendengar jawabanku selirih gerimis hujan yang mulai reda, ia tertegun. Duduk tak bergeming, berat menghela nafas, melepas sorot tatapan kosong. Beberapa lamanya ia membungkam.

Berhari-hari sudah aku mencengkeramai cerianya, mendengarkan kisah perburuan yang heroik, mahahidup, hangat berbuncah-buncah. Baru kali ini ia aku melihatnya “mati” tanpa inspirasi.

“Aku tak ingin membohongi diri sendiri, bahwa memujinya membuatku berarti.”

“Kau bisa puji dia setiap saat lewat fb, twitter, bbm, dan posting tulisan-tulisanmu?”

“Itu semua sudah ku lakukan?”

“Lalu, apa masalahnya?”

“Masalahnya tak kan ada lagi pujianku yang sampai kepadanya.”

“Maksudmu?”

“Kemarin, Martina tiba-tiba memutus hubungan bbm denganku, menghapus namaku di salah-satu pertemanan fb, bagaimana bisa ia membaca postingan tulisanku? Anehnya, dia tak pernah mengemukakan alasannya.”

“Mungkin dia tidak suka pujianmu?”

“Mungkin saja. Tapi, adakah di dunia ini orang yang tak suka dipuji? Misalnya, aku mengatakan lewat fb, twitter dan bbm. ‘Tatapanmu membuat jantungku berhenti berdetak’. Apa aku salah memuji tatapan matanya yang indah?”

“Ada lagi?”

“Misalnya, aku menulis. ‘Selain memiliki kecantikan ragawi, Martina mempunyai kecerdesan intelektual.’ Apa itu juga salah?”

“Apa selama ini Martina tahu, mengapa kau selalu memujinya?”

Ia kelu, termangu dengan mata berkaca-kaca.

Hingga pagi ini, ku masih setia menanti jawabnya, sambil menyimpan asa dalam deru haru yang mengharu-biru ketika teringat kata-katanya: Kawan, ku ingin menumpahkan segala pujian kepada Martina di Hari Kartini. Ini bukan hanya soal rasa terhadap wanita, tapi ini soal momentum …

http://fiksi.kompasiana.com/cerpen/2012/04/23/cinta-martina/

Pusi: “Madura, Akulah Darahmu”



“Madura, Akulah Darahmu” seutuhnya
Di atasmu, bongkahan batu yang bisu
Tidur merangkum nyala dan tumbuh berbunga doa
Biar berguling di atas duri hati tak kan luka
Meski mengeram di dalam nyeri cinta tak kan layu
Dan aku
Anak sulung yang sekaligus anak bungsumu
Kini kembali ke dalam rahimmu, dan tahulah
Bahwa aku sapi kerapan
Yang lahir dari senyum dan airmatamu

Seusap debu hinggaplah, setetes embun hinggaplah,
Sebasah madu hinggaplah
Menanggung biru langit moyangku, menanggung karat
Emas semesta, menanggung parau sekarat tujuh benua

Di sini
Perkenankan aku berseru:
- madura, engkaulah tangisku

bila musim labuh hujan tak turun
kubasuhi kau dengan denyutku
bila dadamu kerontang
kubajak kau dengan tanduk logamku
di atas bukit garam
kunyalakan otakku
lantaran aku adalah sapi kerapan
yang menetas dari senyum dan airmatamu
aku lari mengejar ombak, aku terbang memeluk bulan
dan memetik bintang-gemintang
di ranting-ranting roh nenekmoyangku

di ubun langit kuucapkan sumpah:
- madura, akulah darahmu.

(D. Zawawi Imron, 1996)


Foto:SAYA BANGGA JADI ORANG MADURA !!!

Minggu, 22 April 2012

Mengenal J. Farouk Abdillah, Wartawan Reformis Berbasis Lokal


Refleksi 1 Tahun Tabloid PRO RAKYAT

Oleh : Syafrudin Budiman, SIP (Analis Politik dan Media)
Saya mengenal J. Farouk Abdillah atau yang biasa dipanggil Faruk pada tahun 1998. Ketika itu semangat reformasi sedang digelorakan oleh Amien Rais dan tokoh politik nasional lainnya. Kira-kira antara tanggal 23-25 Mei 1998 saya bertemu dengan Saudara Faruk. Tepat beberapa hari setelah ulang tahun saya ke 18, pada 21 Mei 1998 atau bersamaan dengan momen jatuhnya Diktator Presiden Suharto.

Pertemuan itupun tidak dalam acara resmi atau acara silaturrahim. Tetapi saat saya sedang memimpin demonstrasi menggelorakan semangat reformasi 98 yang menuntut penuntasan kasus-kasus korupsi, pengadilan terhadap Suharto, Cabut Dwi Fungsi ABRI/TNI, pencabutan UU politik, kebebasan pers, serta penegakan demokrasi dan HAM.

Isu tersebut menggelinding ke Kabupaten Sumenep seperti kota-kota lainnya di Indonesia. Sementara kalau di Sumenep isu yang digelindingkan adalah pemberantasan korupsi di Sumenep, sembako murah, reformasi birokrasi dan mendesak turunnya Soekarno Marsaid (Bupati Sumenep saat itu).

Faruk saat reformasi berada di kelompok KRAN (Komite Reformasi untuk Amar Ma’ruf Nahi Mungkar) sebuah kelompok reformasi Sumenep. Dimana KRAN digagas bersama Alm. KH. Herman Bahaudin Mudhari (Putra dari KH. Bahaudin Mudhari dan saudara Achsanul Qosasi, saat ini Anggota DPR RI). Bersama aktifis reformasi lainnya KRAN menyerukan demontrasi, namun entah kenapa? pada subuh-subuh ada siaran radio di RRI dan Nada FM membatalkan demontrasi tersebut.

Tetapi dengan penuh semangat, saya bersama temen-teman lain-nya tetap melakukan demontrasi dan saya yang memimpin di depan. Dimana demontrasi tersebut secara resmi diterima pimpinan DPRD Sumenep, Polres dan menuju kantor Bupati mendesak Soekarno Marsaid mundur.

Ditengah massa yang sudah panas mendekati anarkis dan bahkan bisa terjadi chaos. J. Faruk Abdillah mendatangi saya. “Tenang saudara-saudara. Kami dari KRAN sudah bertemu dengan Muspida, terkait reformasi 98 di Kabupaten Sumenep. Harap sabar dan bisa menjaga situasi,” kata Faruk yang menggunakan topi, menemui saya dan temen-temen lainnya yang sedang demo di DPRD Sumenep.

Saya bilang kepada Faruk, “Massa sudah panas dan tetap ingin menyuarakan aspirasinya. Biarkan kami berdemostrasi, yang penting aman dan saya bertanggungjawab.” 

Singkat cerita setelah reformasi bergulir dan Presiden BJ. Habibie, waktu itu sudah mencabut UU paket politik lama menjadi UU politik berbasis multipartai. Kira-kira dari bulan Juli sampai September saya bertemu Faruk di beberapa proses pendirian Partai Amanat Nasional (PAN) Sumenep Waktu itu keluarga saya merupakan basis Muhammadiyah dan tentunya afiliasi politiknya mendukung berdirinya parpol baru yang di nahkodai Bapak Amien Rais, Ketua Umum PP Muhammadiyah.

Saya sering mengikuti bapak saya Zainuddin HR, yang kebetulan menjadi inisiator PAN Sumenep untuk menghadiri rapat-rapat formatur PAN Sumenep. Kebetulan Faruk juga salah satu inisiator dan disanalah saya sering berinteraksi dengan Faruk dalam wacana dan diskusi politik di tengah transisi demokrasi. Baik isu lokal Sumenep sampai isu nasional.

Setelah itu, Faruk tidak masuk dalam kepengurusan PAN dalam malah bergabung dalam LSM Akbar dan mendirikan lembaga independen pemantau pemilu bernama KIPP. Sementara bapak saya mundur dari PAN, karena adanya aturan PNS dilarang berpartai. Kebetulan bapak saya adalah PNS.

Paska reformasi Faruk lebih memilih netral dalam politik dan aktif di KIPP, apalagi dirinya memang lahir dan besar di media. Walupun sempat terlintas dalam benakknya untuk berjuang bersama-sama PAN. Namun untuk menghargai senior-senior di Muhammadiyah dan PAN. Ia lebih memilih jalan yang terbaik, yaitu jalan independen dan tetap aktif dalam ruang demokrasi yang lebih luas.

Wartawan Tiga Zaman

Faruk sendiri adalah wartawan yang lahir di tiga jaman. Mulai jaman orde baru Presiden Suharto, orde reformasi (Presiden BJ. Habibie, Presiden Gus Dur dan Presiden Megawati). Dan orde politik presidential (Presiden Susilo Bambang Yudhoyono – Wakil Presiden Jusuf Kalla sampai Presiden Susilo Bambang Yudhoyono – Wakil Presiden Boediono). 

Dirinya sudah menjadi wartawan sejak lulus SMP dan SMA. Dimulai sebagai wartawan lepas dan tulisannya sering kali dimuat diberbagai media di Jawa Timur. Bahkan guru dan teman-temannya banyak memuji tulisannya yang terstruktur indah penuh rangkaian kata dan bermakna. Baik dalam bentuk artikel, opini, feature maupun straight news.

Sebelumnya juga sejak SMP dan SMA dirinya sudah aktif dalam kegiatan jurnalistik dan organisasi Pelajar Islam Indonesia (PII). Saat itu dirinya sudah menulis cerpen dan puisi untuk di kirim ke majalah-majalah cerpen.

“Saya sering mendapatkan juara dalam penulisan cerpen. Lumayan dapat hadiah uang, bisa saya gunakan jajan dan uang SPP waktu sekolah,” ujar Faruk menceritakan secara gamblang kepada saya pada bulan Ramadan 2010 lalu.

Ia juga memulai karir jurnalistik secara formal dimulai dari wartawan dan reporter diberbagai radio Sumenep dan Pamekasan. Diantaranya, radio Nada FM (dulu Double One), Karimata FM, RGS FM dan Pesona FM. 

“Lewat media radio inilah saya banyak belajar interaksi dengan banyak orang. Selain itu di radio juga saya bisa menuangkan pikiran, tulisan dan puisi-puisi terbaik untuk bisa didengar banyak orang,” kata Faruk yang saat ini sudah menjadi Pimpinan Perusahaan sekaligus Pimpinan Redaksi Pro Rakyat.

Tak tahu harus dimulai dari mana. Yang pasti saya sebagai sahabat dan teman diskusi Faruk mengetahui dirinya pernah menjadi wartawan harian Duta Masyarakat. Media ini milik Chairul Anam yang saat itu Ketua DPW PKB Jawa Timur di jaman Pemerintahan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Walaupun harian Duta Masyarakat adalah media berbasis kultural NU dan PKB dan dimana PKB saat itu sebagai parpol berkuasa di Jawa Timur. Akan tetapi Faruk tetap konsisten menyuarakan kritik dan fakta yang kadang berbenturan dengan tokoh politik PKB. Sehingga pada puncaknya ia harus keluar dari harian Duta Masyarakat.

Isu-isu yang paling banter dan dikenang sampai saat ini, terkait tulisannya tentang kasus SUAP DAU (Dana Alokasi Umum), pengadaan kapal, pengadaan mess pemda, dan lain-lain. Tentu lewat tulisan-tulisan itu menjadi suara bising bagi penguasa pemerintahan saat itu. Dimana Bupati Sumenep setelah Bupati Soekarno Marsaid adalah KH. Ramdlan Sirajd dan Ketua DPRD-nya KH. Abuya Busro Karim yang sekaligus Ketua DPC PKB Sumenep.

Setelah dari harian Duta Masyarakat ia pindah ke media harian sore Surabaya Post (Surabaya News), kebetulan saya juga pernah bekerja disana hampir satu tahun di tahun 2003. Sehingga membuat saya semakin dekat dengan Faruk, dimana sebagai orang yang sesama orang pernah kerja di Surabaya Post. Waktu itu saya sudah bekerja di Radar Minggu sebagai Kabiro Madura, bersama Dadang D Iskandar.

Faruk menjadi wartawan di Surabaya Post lumayan lama dari 2005 sampai tahun 2009. Di sela-sela menjalani aktifitasnya di Surabaya Post, dirinya ada kegundahan hati untuk tampil dalam politik praktis untuk memperbaiki keadaan Sumenep yang stagnan. Sehingga ia bergabung di Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Sumenep dan memegang kendali Ketua PAC PPP Kecamatan Kota Sumenep.

Saat pemilihan legeslatif ia ikut bersaing dengan para elit PPP di Dapil I Sumenep (Talango, Kota, Batuan, Manding dan Kalianget). Kebetulan ia berada di nomer urut 3, akan tetapi nasib belum berpihak kepadanya. Ia gagal terpilih, mengingat tuhan belum menakdirkan Faruk untuk terpilih. Sepertinya Faruk lebih ditakdirkan menjadi wartawan selamanya.

Mengingat sesuatu hal prinsip dan terkait keterlibatannya di partai politik, Faruk tidak lagi Surabaya Post. Ia lebih memilih mengembangkan media harian Republika di Madura dan kebetulan saya ikut membantu Faruk di Bangkalan dalam pengembangan media Republika. Setelah berjalan sekitar setengah tahun, Republika belum bisa bersaing di Madura. Mengingat peminat dan situasi yang belum mendukung.

“Republika koran bagus dan penuh khasanah pemikiran intelektual Islam. Sayang belum bisa diterima luas di Madura. Saya lebih baik fokus mengembangkan media lokal saja di Madura secara umum dan khususnya Sumenep,” pungkas Faruk.

Mendirikan Tabloid Pro Rakyat

Banyak makan garam diberbagai media membuat Faruk berinisiatif mendirikan media sendiri berbasis lokal. Dengan mengajak beberapa jurnalis muda dan mahasiswa, faruk mendirikan tabloid Pro Rakyat. Tabloid ini dijadikan media suara aspirasi penderitaan rakyat. Terutama untuk menyuarakan kebenaran dan mengungkapkan fakta-fakta yang ada.

Alasan wartawan senior ini mendirikan Tabloid Pro Rakyat tersebut, agar semua tulisan-tulisannya yang mengungkap kebenaran tidak terkooptasi dan terpotong-potong. “Kalau memiliki media sendiri, tentu kita bisa bergerak bebas menyuarakan apa adanya sesuai fakta,” jelas Faruk.

Jika dilihat dari hasil cetak Tabloid Pro Rakyat selama ini yang sudah berjalan satu tahun. Memang tulisan-tulisan, opini-opini dan catatan-catatan di Pro Rakyat mengkungkapkan fakta apa adanya. Tak jarang memerahkan telinga dan memancing emosi orang-orang yang risih dengan berita aktual yang diungkapkan.
Karikatur, gambar dan foto-foto di Tabloid Pro Rakyat, juga bisa membuat mata merah dan dahi mengkerut dengan tatapan menjadi hampa. Bahkan teror, umpatan dan sms gelap sering melewati tidur lelapnya. Namun, Faruk tetap cuek dan tak peduli.

“Mengungkapkan kebenaran lewat tulisan adalah jihad. Matipun, akan menjadi mati sahid sebagai syuhada,” tegas Faruk terkait efek domino yang sering masuk kepada diri dan keluarganya.

Kemarin, tepat hari Kartini, 21 April 2012 bertempat di kantor yang sekaligus rumahnya di Jl. Dr. Cipto, Kolor, Sumenep. Faruk bersama kru dan sahabat-sahabatnya merayakan Ultah 1 Tabloid Pro Rakyat. Acara syukuran yang dimulai jam 08.08 WIB itu, tampak terlihat suasana oposisi dan perlawanan. Undangan yang hadir banyak terlihat para pembesar-pembesar LSM dan aktivis yang biasa kritis terhadap kebijakan pemerintah Sumenep.

Diantaranya yang hadir tokoh LSM, Sajali (Kelompok Peduli Sumenep), Nurul Fajar (Sekretaris Kelompok Peduli Sumenep), Fathor Rahim (Sumekar Coruption Watch) dan H. Dayat (LSM Sango). Sementara yang hadir dari kelompok Budayawan adalah R. Tajul Arifin, Yazid R Passandre (Novelis Lumpur Lapindo). Hadir juga tokoh Pemuda Kepulauan Sumenep Ali Wafa dan Junaidi, SH (Alumni PMII Sumenep).

Sedangkan dari kalangan media dan jurnalistik hadir, Agus Rasyid (Ketua PWI Sumenep) dan termasuk saya sendiri. Dari tokoh pendidikan hadir bapak Edy Muis “Totok” guru SMA 1 Sumenep yang kebetulan juga adalah guru SMA saudara Faruk.

Acara HUT yang sekaligus syukuran ini dibuka dengan pembacaan Surat Yasin dan sambutan Pimpinan Redaksi Tabloid Pro Rakyat, Saudara J. Farouk Abdillah sendiri sebagai tuan rumah. Selanjutnya sambutan  Agus Rasyid Ketua PWI Sumenep yang sekaligus Pembina Tabloid Pro Rakyat.

“Saya berharap kedepan Tabloid Pro Rakyat benar-benar konsisten menyuarakan aspirasi rakyat. Jangan sampai hanya menyuarakan suara penguasa saja,” kata Agus Rasyid disambut tepuk tangan undangan yang hadir.

Selain itu kata, Agus Rasyid yang perlu dievaluasi dari tabloid ini adalah, perluanya keseimbangan berita dan memenuhi unsur-unsur kode etik jurnalistik. Tabloid ini juga harus memenuhi kaidah-kaidah jurnalistik sesuai UU Pers. 

“Kami berharap kepada wartawan Tabloid Pro Rakyat dan media lainnya jangan pernah takut saat meliput. Selam wartawan atau pers tetap berpedoman dengan UU Pers. Karena barang siapa yang menghalagi media untuk meliput ada ancaman pidananya,” ujar Agus Rasyid pria berambut kriting ini.

Menurutnya juga, insan media saat ini ada kabar baik. Dimana Polri sudah melakukan MoU dengan PWI Pusat, dimana isinya tidak akan menerima aduan delik pers. “Setiap ada sengketa dengan pers harus di bawah ke dewan pers,” katanya.

Saya sebagai penulis secara pribadimengucapkan selamat ulang tahun ke 1 Tabloid Pro Rakyat. Semoga tetap konsisten dalam menyuarakan penderitaan rakyat. Semoga juga tetap bisa eksis sampai beberapa generasi. (rud)

http://sosok.kompasiana.com/2012/04/22/mengenal-j-farouk-abdillah-wartawan-reformis-berbasis-lokal/