Jumat, 20 April 2012

Penasaranku Pada Martina “Kartini” Modern

Oleh Pusawi Adiwijaya (Kompasianer) 
Menjelang tanggal 21 April, banyak kegiatan yang beraroma perempuan. Seperti Pelatihan Gender, Emansipasi Perempuan, dan diskusi mengenai Perempuan jadi Pemimpin. Di Kompasiana pun banyak tulisan teman-teman mengaenai Perempuan, seperti “Perempuan dalam Cahaya” oleh Goretti Ati, “Puisi Buat Emak … “ oleh Bain Saptaman, Kartini Tanpa Kebaya oleh Yasmin Nadhira, “Kartini (Era Internet), Emansipasi yang Keterlaluan!” oleh Bowo Bagus, “ Kartini - Kartini Dunia Maya … Ternyata Nyata” oleh Marla_Lasappe, dan yang lainnya. 
Kegiatan dan tulisan-tulisan yang beraroma perempuan tersebut, mengingatkan saya pada sebuah nama yang hampir setiap malam terdengar dari balik bilik. Orang yang punya nama itu, katanya seperti RA. KARTINI, cantik, ramah, pernah terpilih di subuah pemilihan even minat dan bakat, bekerja di tempat yang banyak uang, tidak mengenal cepek, tabah saat ditinggal ayahnya, dan kadang marah juga. Ini membuat saya penasaran. Benarkah itu? Nama itu, Winda. 
Rasa penasaran itu seakan menyuruh saya untuk mengenal lebih dekat pada sosok Winda, namun bagaimana caranya. Bertanya pada suara di balik bilik itu, tidak mungkin. Khawatir antara pemilik suara di balik bilik dengan Winda punya hubungan hati dekat. Bisa-bisa saya dimarahi karena cemburu, mungkin.
Dari balik bilik terdengar jua kata-kata “Liputan Winda dot com”, langsung saya mengetik di google, dengan tulisan liputanwinda.com. Muncul www.liputanwinda.com: “Memujimu Membuatku Berarti”, diklik, terlihat di monitor seperti gambar di bawah ini.
133494602839516490
Gambar liputanwinda.com. Sumber : Screen pribadi

Di dalamnya ada tulisan-tulusan yang tersembunyi, saya coba menelusuri dari atas sampai bawah dan membuka satu-persatu tulisan untuk mencari jawaban, siapa sebenarnya Winda itu. Ternyata Winda itu adalah seorang perempuan yang punya nama lengkap Dewi Martina Agustira yang lahir di Sumenep Madura pada tanggal 16 Agustus 1990 dari pasangan Ibu Romahniah dengan (Alm) Bapak Sumartono.

 

Benar suara dari balik bilik itu, dulu Winda pernah terpilih salah satu Cebbhing (red. Bahasa Madura, sebutan nama anak perempuan) Sumenep, pada tahun 2006-2007. Sekarang kuliah di Pasca Sarjana STIE Mahardika Surabaya dan bekerja di Bank Centra Asia Cabang Sumenep.

Ada beberapa hal yang perlu ditiru dari sosok seorang Winda, yaitu semangat kerja dan semangat kuliahnya. Semangat kuliahnya tidak mematikan semangat kerjanya, semangat kerjanya tidak mematikan semangat kuliahnya, justru keduanya dikolaborasikan saling memberi semangat.

Semangat kerja karena cinta-cita kuliah, semangat kuliah karena cita-cita kerja. Winda sosok perempuan yang tangguh, harus bolak-balik dan balik bolak, hehehe, antara Sumenep-Surabaya. Semangatnya itulah yang membuat saya menyebut  “Martina Kartini Modern”, karena semangat Winda hampir sama dengan Ibu Kartini Pendekar Bangsa itu. 

Semangat juang RA. Kartini melihat perjuangan wanita agar memperoleh kebebasan, otonomi dan persamaan hukum sebagai upaya dari gerakan yang lebih luas.

Sumber: http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2012/04/21/penasaranku-pada-martina-kartini-modern/

Sejenak Kehilangan Inspirasi di Kompasiana

Suatu cerita ada seorang sang penulis yang kehilangan inspirasi atau ide, pemikiran dan gagasan untuk dijadikan bahan tulisan. Sang penulis biasanya rajin mengeluarkan ide-ide, pemikiran dan gagasannya untuk dilontarkan dan didiskusikan kepada teman-temannya untuk dijadikan bahan inspirasi tulisan di Kompasiana.com

Dia mengatakan, “Aku sudah kehilangan inspirasi untuk bisa melahirkan karya-karya menarik,” kata sang penulis yang mulai tak enak pikiran, mengingat ispirasinya sudah lenyap tanpa jejak.

Biasanya sang penulis selalu mendiskusikan ide-idennya kepada kedua temannya, yaitu Pusawi dan Yazid yang menjadi teman diskusi di Kompasiana.com. Setelah dibahas tuntas biasanya, ide, pemikiran dan gagasan itu menjadi inspirasi dan dengan inspirasi itulah, sang penulis melahiran banyak tulisan dan karya.

Tulisan sang penulis cukup bagus dan menarik, jika dilihat rating tulisannya di kompasiana.com tidak terlalu rendah dan bahkan pernah mencapai 651 lebih dalam sebuah tulisan tentang olahraga, Pernah juga tulisannya berjudul “Utamakan Kecantikan Intelektual” menjadi tulisan yang paling inspiratif dan saat ini sudah dibaca 249 orang, Judul ini di Like banyak orang, di re-tweet di twitter.com dan di Share di facebook.com.

Selain itu sang penulis yang mulai kehilangan inspirasi itu juga sering menulis profil tentang temen dekatnya. Antara lain tulisannya di kompasiana.com yaitu berjudul, “Talk Less Do More,” “Madura Butuh Penguatan Budaya Lokal” dan “Memujimu Membuatku Berarti,” rata-rata tulisan ini di kompasiana.com sudah mencapai rata-rata 100 pembaca.

Sang penulis juga pernah menulis profil temennya Yazid seorang novelis muda terkenal dengan “judul Lumpur Lapindo.” Yazid selalu menjadi teman menulis untuk mencari dan menemukan ispirasinya. Sang penulis yang mulai kehilangan inspirasi ini, pernah menulis profil Yazid dengan judul “Menulis untuk Tugas Sejarah.” Dalam tulisannya ia memuji Yazid sebagai sosok yang menarik dan genius.

Berikut ini dua paragraf tulisan tentang Yazid. “Sosok Yazid R Passandre dilirik sejak dirinya menulis Novel Lumpur, Trilogi Tanah dan Cinta. Ia menceritakan tragedi semburan lumpur panas di Porong dan kisah duka derita korban. dan

“Catatan kelam yang diringkas dalam sebuah novel ini mendadak laris dan banyak diburu orang. Mulai dari para korban, aktifis LSM, mahasiswa, dosen, dan politisi. Bahkan, para pejabat yang tangannya masih berlumuran lumpur Lapindo, ikut pula membaca karyanya.” Itulah lead tulisan sang penulis tersebut, terkait Yazid.

Suatu waktu sang penulis di pagi hari jam 05.00 WIB tanggal 20 Maret 2012, menemui Pusawi salah satu temennya yang mendadak menjadi Kompasianer terkenal di kompasiana.com. Tulisan Pusawi pernah menembuh 953 lebih pembaca atau penulis di kompasiana.com.

“Sungguh hebat kamu Wih… bisa tembus menuju seribu pembaca,” kata sang penulis yang sudah kehilangan ispirasi tersebut.

Kebetulan saat sang penulis ketempat Pusawi, ada Yazid sang novelis muda, sehingga ketika sang sang penulis bertemu mereka menjadi agak lagi semangat untuk mau menulis lagi. Yazid juga sering menulis di Kompasiana.com dan tulisannya telah menembus 1000 lebih dengan judul “Si Miskin Menolong Orang Miskin.”

Sedikit diceritakan Pusawi Adijaya adalah mantan Ketua PC PMII Sumenep periode 2008-2009. Saat ini Pusawi bekerja di salah satu toko elektronik yang menjual barang dan peralatan komputer. Kebetulan disampingnya ada warnet I-Const Net, jadi semakin mempermudah mereka selama ini menuangkan ide, pikiran dan gagasannya kedalam sebuah tulisan.

Memasuki jam 05.30 WIB, sang penulis dengan wajah lemas mengeluh kepada Pusawi dan Yazid,

“Kawan gimana ini, saya tak bisa menulis lagi beberapa hari ini, saya kehilangan inspirasi,” ujar sang penulis menggerutu.

“Santai fren (kawan), Sebentar lagi kamu akan muncul ispirasi,” kata Yazid memberikan semangat.

Penulis Novel Tonggak Sang Pencerah ini juga mengatakan kepada sang penulis, bahwa ispirasi itu akan datang kalau kita tetap semangat dan konsisten.

“Katanya mau merobohkan tembok, ketemu polisi tidur saja sudah mundur,” sindir Yazid.

Sementara Pusawi juga ikut memberikan semangat. “Jangan patah semangat mas, dulu sampean yang motivasi saya untuk menulis di kompasiana.com, sampai tulisan saya banyak di baca orang. Kok malah sampean lemot sekarang,” ujar Pusawi mengetuk pikirang sang penulis.

Menerima masukan yang sedikit kritis, sang penulis mulai muncul ide, pemikiran dan gagasan yang dijadikannya inspirasi.

“Bagaimana kalau aku tulis judulnya seperti ini,” kata sang penulis sambil menatap langit menunggu inspirasinya datang.

“Oh saya ada inspirasi. Saya mau menulis tulisan yang berjudul: Sejenak Kehilangan Inspirasi di Kompasiana,” kata sang penulis langsung bergegas menuju komputer untuk menulis inspirasinya agar tak segera hilang ditelan kata-kata.

Jika dilihat dari sekelumit cerita pendek ini, sebenarnya sang penulis tak pernah kehilangan ide, pemikiran dan gagasannya yang menjadi inspirasi dirinya untuk menulis. Namun, sang penulis gundah merana, karena salah satu sahabatnya yang biasa menjadi inspirasi dirinya untuk menulis, meninggalkannya tanpa kabar yang jelas.

“Pertemanan di BB di delete, SMS tak pernah dibalas dan sekarang tak ada kabar,” kata sang penulis curhat kepada Pusawi dan Yazid.

“Sabar fren, setiap kesulitan pasti ada jalan. Kamu pasti bisa menemuinya lagi. Apalagi kamu tak pernah berbuat jelek kepadanya dan malah kamu sering memujinya dalam tulisan-tulisanmu. Apa yang kamu lakukan, belum tentu semua orang bisa melakukan,” tandas Yazid memberikan tausiah yang memberikan semangat.

Tetapi sang penulis menyadari, bahwa mungkin dirinya memiliki kesalahan yang juga tidak ia ketahuinya. Sang penulis sadar diri akan semuanya, dan ia bergegas menyelesaikan tulisannya yang telah diberinya judul.

Sang penulis bilang kepada Pusawi dan Yazid, bahwa suatu saat ia akan mendatangi sahabatnya tersebut dalam waktu beberapa hari kedepan dan menyatakan permintaan maafnya.

“Kalau dia sudah memaafkanku mungkin inspirasiku akan terus bertambah dan berkibar di langit angkasa yang luas,” pungkas sang penulis yang sudah menemukan inspirasinya yang hilang.

Perlu diketahui sang penulis tersebut adalah orang yang menulis cerita pendek ini. Ia menulis cerita pendek ini penuh semangat dengan judul yang inspiratif. Sejenak Kehilangan Inspirasi di Kompasiana. (*)

Selasa, 17 April 2012

Mengenang Ketua Dewan Kesenian Jatim dalam Festival Budaya Madura 2009

Oleh Syafrudin Budiman, SIP
(Pegiat Seni dan Budaya Madura)
From the album by Syafroedin Boediman
Festival Budaya Madura 2009
Syafrudin Budiman, SIP adalah nama panjang saya dan biasanya oleh teman-teman kecil saya di panggil Rudi. Saya sebagai orang Sumenep sangat mencintai Seni dan Budaya, walaupun secara pribadi lebih banyak konsen di bidang media dan politik. Namun hal itu tak menyurutkan saya memahami dan menjadi pelaku dunia kesenian dan budaya.
Pernah suatu waktu di bulan Juli 2009, saya diskusi dengan seniman terkenal Fauzi Asmara di rumahnya di Jl. Kartini, Pangarangan Simenep. Kebetulan dia adalah Gubernurnya seniman se-Jatim dan Fauzi Asmara adalah sosok Ketua Dewan Kesenia Jawa Timur (DKJT) yang penari handal yang sudah Go Internasional.
Ia mengatakan kepada saya, “Rud…ayo kita bikin even besar di Jatim dan kita tempatkan di Madura sebuah Festival Budaya Madura yang menjadi bagian rangkaian Festival Budaya Jawa Timur. Acara ini dalam memperingati Hari Ulang Tahun. Kamu even organizer-nya atau panitia-nya. Kita bikin semeriah mungkin 2 hari 2 malam,” kata Fauzi Asamara yang aktif membatu pakde Karwo dalam bidang seni.
Mendengar tawaran Fauzi, langsung saya terima. “Jangankan dananya cukup, kurangpun kita cari sponsor yang banyak agar acara ini sukses,” kata saya kepada Fauzi dengan penuh semangat.
Persis setelah proposal atau ToR (Term of Reference) jadi awal Agustus 2009. Kita usung even organizer dengan nama Plat M (Komunitas Bengkel Seni Madura). Sementara itu, puisiwan muda Lukman Hakim dari Pangesto menjadi Sekretaris panitia mendampingi saya yang ditunjuk menjadi Ketua Panitia.
Tepat satu bulan berikutnya, Bulan September 2009 kepanitian disusun dan ToR sudah selesai. Acara Festival Madura ini berlangsung dua hari. Hari pertama tanggal 20 Oktober 2009 dilaksanakan, Kirab Budaya yang menampilkan Musik Tong-Tong/Musik Daul, Tari, Fashion pesona Batik Madura, Musik Seronin, Hadrah, Drama Puisi Jalanan dan Pragaan Model. Yang paling banyak mendapat sambutan adalah penampilan pragaan busana batik Madura yang diperankan model cantik-cantik dari Pamekasan dan Sumenep.
Diteruskan malamnya dimulai tepat jam 20.30 WIB adanya panggung Festival Budaya Madura dan dihadiri 7 ribu-an massa yang haus hiburan .Sebelumnya, siangnya sebanyak 15 Mahasiswa melakukan dramatisasi puisi jalan diberbagai tempat. Diantaranya, Pasar Anom, Radio Gelora Sumekar (Live), Kantor Sat Pol PP dan Bank Rakyat Indnesia (BRI) Sumenep.
Sedangkan pada hari kedua, malam tanggal 21 Oktober 2009 dilaksanakan Pagelaran Tayup, Tari Topeng dan Tari Muang Sangkal. Sebelumnya, siangnya saya bersama Fauzi Asamara fokus pada Sarasehan Budaya di Aula Dinas Infokom Sumenep. Hadir sebagai pembicara, Faidlal Rahman Ali (Pengamat Wisata dan Tourism), DR. Ida Ekawati (Rektor Unija) dan salah lagi seniman dari Universitas Negeri Surabaya (dulunya IKIP Surabaya).
Berikut ada catatan kliping yang diambil di media Antara Jatim yang menjelaskan agenda dan kegiatan tersebut. Adapun judulnya Festival Madura 2009 Dimeriahkan oleh Pragaan Busana Batik.
Sebanyak 38 model mengenakan busana batik ikut tampil dalam acara pembukaan Festival Madura 2009 di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, Rabu (21/10/2009) sore. Festival Madura 2009 di Sumenep yang digagas Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jawa Timur yang bekerja sama dengan Komunitas Seni “Plat M” tersebut dibuka dengan pawai budaya dari Taman Adipura ke “Labang Mesem” di kawasan Pendapa Agung setempat.
Puluhan model yang mengenakan baju batik koleksi salah seorang perajin batik asal Kabupaten Pamekasan, Soraya, menjadi barisan paling depan pawai tersebut disusul barisan empat kelompok musik kontemporer dan penari.
“Kami sengaja melibatkan model yang mengenakan busana batik untuk lebih mengakrabkan batik kepada masyarakat,” kata Ketua Panitia Pelaksana Festival Madura 2009 Syafrudin Budiman yang kebetulan saya sendiri.
Apalagi, batik sudah ditetapkan oleh UNESCO sebagai warisan budaya tak benda yang dihasilkan Indonesia. “Ini harus disyukuri. Melibatkan model yang mengenakan busana batik adalah salah satu bentuk dari rasa syukur kami atas pengukuhan batik sebagai warisan budaya,” kata Syafrudin.
Sementara itu, Soraya menjelaskan, motif batik yang dikenakan para modelnya adalah motif “gaul”.
“Itu motif kontemporer yang kami buat khusus dipakai anak-anak muda. Untuk menembus pasar anak muda, kami harus menyesuaikan dengan selera anak muda,” katanya di Sumenep.
Ia menjelaskan, selama ini batik dianggap sebagai pakaian bagi orang tua dan tidak cocok digunakan anak muda.
“Kami berusaha mengubah kesan itu dengan cara membuat motif gaul. Melalui pembukaan Festival Madura 2009 ini, kami berusaha mengenalkan motif batik bagi anak muda tersebut,” kata Soraya.(ant)
Sementara itu acara ini juga diliput diberbagai media salah satunya lagi dengan judul: Melestarikan Budaya dalam Festival Madura.
 
From the album by Syafroedin Boediman
Festival Budaya Madura 2009
Mulai Rabu (21/10/2009), Festival Madura 2009 digelar di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur (Jatim). Ajang pelestarian kebudayaan Madura yang berlangsung hingga Kamis (22/10/2009) tersebut menampilkan beragam kesenian lokal yang menarik perhatian masyarakat. Festival Madura 2009 diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jatim bekerja sama dengan Komunitas Seni “Plat M”. Ketua Panitia Syafrudin Budiman mengatakan kegiatan ini merupakan upaya mengembangkan dan melestarikan kesenian dan budaya Madura. Karenanya, festival ini menampilkan aneka kesenian lokal yang merupakan warisan budaya Madura yang harus dijaga. Festival terbagi dalam tiga kegiatan utama, yakni pertunjukan kesenian khas, sarasehan, serta karnaval budaya.
Menikmati Karya Seni
Pada pertunjukan kesenian khas Madura, panitia menggelar pementasan topeng dalang dan musik saronen. Asal tahu, saronen merupakan iringan musik khas Madura yang terdiri atas bunyi-bunyian trompet dari kayu jati. Nah, pertunjukan ini digelar di Kantor Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Sumenep.
Selain di atas panggung, peserta Festival Madura juga tampil di sejumlah pusat keramaian, seperti di terminal dan pasar. Hal ini dilakukan guna memberikan kesempatan pada warga agar dapat menikmati karya seni Madura tanpa harus datang ke lokasi.
Sementara itu, sarasehan akan menghadirkan empat pembicara yang berasal dari Pimpinan Universitas Wiraraja Sumenep, Dewan Kesenian Jatim, serta Pengamat Budaya. Sebagai pamungkas acara, akan digelar pula karnaval budaya.
Dalam karnaval ini, nantinya para seniman yang tampil di Festival Madura akan berjalan kaki bersama. Mereka menempuh rute dari Taman Bunga ke Labang Mesem (pintu gerbang keraton Sumenep) di kawasan Pendapa Agung. Sarasehan: pertemuan yang diselenggarakan untuk mendengarkan pendapat para ahli mengenai suatu masalah dalam bidang tertentu. (Sumber: Berani, 22-Oct-2009).
Akankah kegiatan ini akan berlangsung lagi kedepannya. Mengingat ketika kami berusaha mengadakan kembali masih banyak kendala yang menantang. Namun kedepan diharapkan saya Syafrudin Budiman, Fauzi Asmara, Lukman Hakim dan beberapa pelaku seni lainnya, diminta tetap konsisten dalam mengawal kegiatan-kegiatan budaya seperti Festival Madura 2009.
Saya secara pribadi punya niat dan keinginan, setelah beberapa tahun ini akses jembatan Suramadu terbangun. Dimungkinkan ada sebuah Festival Budaya lagi yang bisa menarik wisatawan lokal maupun asing untuk datang ke Sumenep, Madura.
Jika wisatawan meningkat, maka secara otomatis kegiatan ekonomi berjalan optimal.  Lewat gerakan revitalisasi kebudayaan lokal juga diharapkan pertumbuhan ekonomi bisnis bisa menyerap tenaga kerja profesional. Tentu hal ini perlu dukunga semua pihak, baik pemerintah maupun sektor bisnis swasta yang bergerak di bidang travel dan tourism. (rud)

Kamis, 12 April 2012

“Memujimu Membuatku Berarti”


Memujimu Membuatku Berarti, Kalimat itulah yang terucap dari temen dekat Dewi Martina Agustira yang biasa dipanggil Winda. Gadis cantik penuh nuasa intelektual ini dengan santai menjawab, “He he he he, terima kasih,” jawab Winda, ringan dan penuh senyum kebahagiaan.

Menurut Winda dorongan dan semangat selalu datang dari temen-temenku untuk terus beraktifitas positif dan penuh optimisme. Dirinya yakin dengan optimisme bisa menambah spirit dalam hidupnya sehari-hari.

“Semua orang pasti punya masalah, semua orang pasti pernah kehilangan seseorang yang pernah dicintai dan semua orang pasti pernah tersakiti. Tetapi kita harus tabah dan terus bersujud kepada-Nya (Allah SWT),” ujar Winda yang saat ini bekerja di salah satu Bank Swasta di Madura.

Winda menambahkan, datangnya sebuah masalah tidak mungkin tiba-tiba. Datangnya sebuah masalah muncul karena adanya sebab akibat. Kata Winda, semua jalan hidup sudah ada yang mengatur dan menjadi takdir dari Yang Maha Kuasa.

“Kita sebagai insan manusia diharapkan terus berihtiar, sabar dan tawakkal,” terang gadis kelahiran Sumenep, 16 Agustus 1990 ini.

Winda yang baru saja kehilangan ayahandanya (Alm) Soemartono, meneguhkan spiritual dirinya bahwa, hidup adalah perjuangan menuju kebenaran. Untuk mencapai jalan tersebut diperlukan sebuah komitmen dan pengorban. Tanpa adanya semua itu, sulit bagi kita meraihnya.

“Langkah yang setengah-tengah akan digilas oleh waktu dan jaman. Momentum harus terus diraih menuju jalan terbaik, agar tiada penyesalan dan airmata,” tandas Winda yang saat ini menjalani studi Pasca Sarjana di STIE Mahardika Surabaya.

Winda yang biasa aktif sebagai relawan sosial dan pegiat seni budaya ini, dalam pesan akhirnya mengatakan, memperjuangkan kebenaran memang sulit. Tapi lebih sulit, kalau perjuangkan kebenaran tidak bisa diraih.

“Hidup akan lebih berarti dengan kejujuran, karena kebenaran rasa dan hati akan terus terpatri dalam diri,” urai Winda dengan penuh wajah kejujuran. (rud)

Rabu, 11 April 2012

Achsanul Qosasi : Saya Bangga Menjadi Orang Madura

Pamekasan - Achsanul Qosasi anggota DPR RI Dapil XI Madura, Jawa Timur menghadiri Seminar Nasional Empat Pilar Kebangsaan di SMKN Pamekasan, Sabtu (8/4). Acara yang dihadiri oleh KH. Kholilur Rahman, Bupati Pamekasan dan Ahmad Faisal Ketua DPD KNPI Pamekasan ini, diselenggarakan Ikatan Mahasiswa Bata-Bata (IMABA), Pamekasan.
Dalam acara itu Achsanul Qosasi melontarkan kalimat, Kebangsaan Madura Bagian dari Identitas Kebangsaan Indonesia. ia juga mengatakan, dirinya sangat bangga sebagai orang Madura.
“Bagaimanapun saya lahir dan dibesarkan di tanah tumpah darah Madura. Walaupun ada sebagian orang Madura yang merasa minder mengakui tanah kelahirannya, karena ejekan dan godaan yang memerahkan telinga, terkait kehidupan orang Madura,” terang Achsanul Qosasi yang juga Wakil Ketua Komisi XI DPR RI ini.
Menurut Achsaul Qosasi, orang Madura memiliki potensi yang cukup kuat dalam segala hal. Diantaranya, penduduk suku Madura tersebar di dunia. Karakter Madura juga memiliki sikap kerja keras dan tak pernah putus asa, apalagi tak mau disebut sebagai pengecut.
Madura juga kata Achsanul Qosasi, termasuk peringkat 5 suku tersukses di Indonesia dan jumlah rasnya terbesar ke empat di Indonesia. Setelah suku Jawa, Melayu dan Bugis. “Semua potensi ini harus dimaksimalkan untuk kesejahteraan dan pembangunan daerah tertingal di Madura,” ujarnya.
Dalam acara Seminar yang bertema; Membendung Radikalisme dengan Empat Pilar Kebangsaan ini, Achsanul Qosasi juga menyatakan, munculnya radikalisme akibat adanya otonomi daerah yang kebablasan. Dimana banyak ketidakadilan yang masih berlangsung setiap hari.
Namun, kata pria kelahiran Daramista, Lenteng, Sumenep ini, Pemerintah terus berupaya untuk mensejahterakan rakyatnya. Walau masih banyak yang belum bisa dipenuhi. Pemerintahan SBY-Boediono saat ini terus memprioritaskan pembangunan percepatan daerah tertinggal dan miskin.
“Buktinya Pemerintah Pusat melalui Badan Percepatan Wilayah Suramadu (BPWS) menyiapkan sekitar 295 Milyar  untuk anggaran pembangunan Madura. Akan tetapi dana yang tersebut hanya terserap 35 persen saja. Kedepan kita ajukan lagi dan perlu dimaksimalkan agar terserap makasimal,” terang pria yang diramaikan media menjadi kandidat Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI ini. (rud)

Mengenal Wanita Madura dari Sosok Winda


Oleh Hady Dede (Kompasianer)
Tak dapat saya bayangkan bila sosok wanita tak hadir di tengah kehidupan ini, alangkah garingnya. Peran wanita yang sangat penting digambarkan secara jelas dalam semua kitab suci, bahkan dalam Al-Qur’an, kata wanita diabadikan sebagai nama sebuah surah, yakni An Nisa. Wajar, jika makhluk Tuhan yang paling kita banggakan adalah seorang ibu, yang tak lain sosok wanita.
Tak berlebihan bila kita memiliki wanita-wanita yang kita kagumi dan idolakan. Saya sendiri sangat bersyukur sempat membaca liputanmadura.com (baca di sini), karena di media online inilah saya mengenal sosok Winda Martina, gadis masa kini yang masih konsisten mewarisi nilai-nilai luhur wanita Madura. Jarang sekali wanita modern dan profesional seperti Winda (sapaan akrab), apalagi masih muda dan cantik, mampu memegang dan memelihara warisan nilai-nilai lokal. Salah satu warisan luhur wanita Madura yang tampak dari sosok Winda adalah kehalusan tutur kata dan perangainya.
Winda Martina terpilih sebagai Kacong tor Cebbing, sebuah ajang pemilihan putra-putri (Madura) di Sumenep tahun 2006-2007.  Sehari-hari, Winda bekerja sebagai profesional sebuah bank swasta. Namun, kesibukan dan kelelahannya bekerja seharian, tak melunturkan kebugaran dan daya tarik penampilannya. Menariknya lagi, kecantikan luar yang dimiliki Winda ternyata bersumber dari dalam. “Kecantikan fisik itu semu kalau tidak lahir dari kecantikan hati.”
Inilah salah satu tulisan yang saya sukai tentang sosok Winda di portal Madura online.
Sosok Dewi Martina Agustira dikenal dengan panggilan Winda adalah seorang profesional muda, aktifis perempuan, relawan sosial, entertainer, photography dan, pegiat di bidang seni dan budaya. Winda adalah seorang cebbing Sumenep yang lahir dari pasangan Rohmaniah asal Banyuwangi daratan paling timur di Pulau Jawa dan (Alm) Sumartono asal Sumenep, daratan timur di Pulau Madura.
Masa kecil gadis yang cantik dan periang ini waktunya banyak dihabiskan di Jl. Trunojoyo Gang VIII-A, Kolor, Kabupaten Sumenep. Madura, Jawa Timur. Sebuah daerah wisata yang kaya akan budaya lokal yang memiliki identitas tersediri praktek kebudayaannya. Baik itu bahasa, tradisi, perilaku, seni dan kebudayaan lokalnya.
Namun Winda, sering mengalami kegelisahan dan kegundahan. Akankah kebudayaan lokal Sumenep khususnya dan Madura pada umumnya bisa bertahan di daerahnya sendiri? Bagaimana dengan serbuan budaya lokal Indonesia dari budaya asing. Apalagi di era liberalisasi informasi dan ekonomi, paska berdirinya Jembatan Suramadu?
Gadis kelahiran 16 Agustus 1990 ini mengatakan, sepertinya perlu kesadaran tiap warga Madura agar lebih mencintai kebudayaan lokal ketimbang budaya luar. Jika melihat kondisi sekarang ini, terlihat banyak sekali anak-anak muda yang tidak peduli lagi dengan budaya lokal Madura.
“Banyak anak muda jarang menggunakan bahasa halus Madura, atau bahasa yang penuh tatakrama untuk menghargai semua orang. Terutama yang dituakan dan dihormati,” ujar Winda yang juga aktif sebagai relawan sosial dan organisasi perempuan.
Penggemar Agnes Monica ini sering bertanya, apakah kebudayaan lokal asli Madura sudah tidak menarik lagi buat anak-anak muda saat ini? Padahal kata Winda, dengan mempertahankan budaya Madura sendiri, bisa membendung masuknya kebudayaan asing. Budaya lokal adalah tonggak pemersatu bangsa dan diperlukan peran banyak pihak untuk peduli pada topik ini.
“Kebudayaan lokal yang berasal dari tiap sudut di Madura dapat berperan sebagai pembentuk keberagaman. Hal ini menarik mengingat masing-masing memiliki keunikan yang tidak dimiliki daerah lain di Indonesia, bahkan dunia internasional,” tandas Mahasiswa Pasca Sarjana STIE Mahardika Surabaya.
Menurut profesional muda ini, Budaya lokal Madura merupakan jati diri bangsa Indonesia dan cermin kebhinekaan sikap bangsa yang menghargai segala perbedaan. Bisa dilihat dari macam-macam tarian di Indonesia, seni tradisional, bahasa, adat istiadat, hingga upacara adat yang beragam.
Selanjutnya kata Winda, dengan berbagai macam-macam kebudayaan inilah, dapat menjadikan kekuatan tersendiri untuk menarik wisatawan dari domestik sampai internasioanal. Faktanya juga banyak orang asing tertarik untuk mempelajari budaya lokal Madura.
“Kalau orang luar saja ingin mengenal dan tertarik dengan budaya Madura. Kenapa kita yang asli orang Madura malah mencintai budaya luar yang kadang tidak patut kita tiru,” pungkas gadis yang memiliki hobi photograpy ini. (rud)

Profil Winda :
Nama : Dewi Martina Agustira
Nama Lain : Winda
Kelahiran : Sumenep, Madura, 16 Agustus 1990 di Sumenep
Agama : Islam
Orang tua : Alm. Sumartono – Rohmaniah
Pendidikan : Pasca Sarjana STIE Mahardika Surabaya
Pekerjaan : karyawan di BCA
Hobi : Photography, Membaca Novel, Nonton Film, Dengerin Musik
Motto Hidup : Talk Less Do More, Miskin Kata-kata Kaya Tindakan
Musik : Katy Perry, Agnes Monica
Idola : Alm Papa dan Muhammad Sang Rasul

Winda: Utamakan Kecantikan Intelektual

Sosok Dewi Martina Agustira

Menjadi seorang perempuan cantik tidak harus mengedepankan kecantikan fisik dan wajah semata. Namun kecantikan dalam bentuk kecerdasan intelektual atau Intelegensi Quotient (IQ) lebih diutamakan guna menambah esensi kecantikan.

Hal ini disampaikan gadis bernama Dewi Martina Agustira, perempuan kelahiran, Sumenep, 16 Agustus 1990. Ia biasa dipanggil oleh teman-temannya dengan nama Winda.

Menurut gadis yang pernah mengikuti Pemilihan Kacong tor Cebbing Sumenep 2006-2007 ini mengatakan, kecantikan pada hakikatnya merupakan manipulasi dan pandangan pada diri seseorang perempuan tersebut.

“Akan tetapi kecantikan perempuan paling ideal adalah dibarengi kecerdasan intelektual. Dimana kecantikan itu tidak akan pernah luntur dan dikenang sepanjang masa,” ujar Winda dengan senyum tipisnya yang begitu mempesona.

Winda juga menerangkan bahwa, kecantikan intelektual merupakan harapan semua perempuan, dengan mengedepankan sosok intelektual dan kecantikan diri, yang tak kasat mata. Serta didukung oleh imajinasi diri untuk memberikan opsi pola sehari-hari.

“Bagi perempuan aktif, yang tetap ingin memperhatikan penampilan diri masing-masing. Sangatlah penting sebuah inspirasi untuk menantang asumsi sensualitas dan feminitas semata,” terang mahasiswa pasca sarjana STIE Mahardika.

Winda juga mengatakan bahwa, banyak orang berkata bahwa kejujuran telah sirna dan banyak orang berkata kebenaran mulai luntur. Tetapi kuyakin jujur dan benar tak pernah mati. “Karena jujur dan benar itu indah. Terutama bagi perempuan mengedepankan kecerdasan intelektual,” pungkas gadis yang aktif sebagai profesional muda ini.

Penggemar Katty Pary ini juga menambahkan bahwa, di era kebebasan informasi dan tehnologi  saat ini, diharapkan perempuan Indonesia memiliki kompetensi. Supaya nantinya memiliki kemampuan.daya saing yang tinggi di era global.

“Jika perempuan Indonesia maju. Maka kedepan pembangunan bangsa ini lebih maju lagi,” ucap  Winda dengan wajah penuh optimisme. (rud)

Rabu, 04 April 2012

Madura Butuh Penguatan Budaya Lokal

Sosok Dewi Martina Agustira dikenal dengan panggilan Winda adalah seorang profesional muda, aktifis perempuan, relawan sosial, entertainer, photography dan, pegiat di bidang seni dan budaya. Winda adalah seorang cebbing Sumenep yang lahir dari pasangan Rohmaniah asal Banyuwangi daratan paling timur di Pulau Jawa dan (Alm) Sumartono asal Sumenep, daratan timur di Pulau Madura.

Masa kecil gadis yang cantik dan periang ini waktunya banyak dihabiskan di Jl. Trunojoyo Gang VIII-A, Kolor, Kabupaten Sumenep. Madura, Jawa Timur. Sebuah daerah wisata yang kaya akan budaya lokal yang memiliki identitas tersediri praktek kebudayaannya. Baik itu bahasa, tradisi, perilaku, seni dan kebudayaan lokalnya.

Namun Winda, sering mengalami kegelisahan dan kegundahan. Akankah kebudayaan lokal Sumenep khususnya dan Madura pada umumnya bisa bertahan di daerahnya sendiri? Bagaimana dengan serbuan budaya lokal Indonesia dari budaya asing. Apalagi di era liberalisasi informasi dan ekonomi, paska berdirinya Jembatan Suramadu?

Gadis kelahiran 16 Agustus 1990 ini mengatakan, sepertinya perlu kesadaran tiap warga Madura agar lebih mencintai kebudayaan lokal ketimbang budaya luar. Jika melihat kondisi sekarang ini, terlihat banyak sekali anak-anak muda yang tidak peduli lagi dengan budaya lokal Madura.

“Banyak anak muda jarang menggunakan bahasa halus Madura, atau bahasa yang penuh tatakrama untuk menghargai semua orang. Terutama yang dituakan dan dihormati,” ujar Winda yang juga aktif sebagai relawan sosial dan organisasi perempuan.

Penggemar Agnes Monica ini sering bertanya, apakah kebudayaan lokal asli Madura sudah tidak menarik lagi buat anak-anak muda saat ini? Padahal kata Winda, dengan mempertahankan budaya Madura sendiri, bisa membendung masuknya kebudayaan asing. Budaya lokal adalah tonggak pemersatu bangsa dan diperlukan peran banyak pihak untuk peduli pada topik ini.

“Kebudayaan lokal yang berasal dari tiap sudut di Madura dapat berperan sebagai pembentuk keberagaman. Hal ini menarik mengingat masing-masing memiliki keunikan yang tidak dimiliki daerah lain di Indonesia, bahkan dunia internasional,” tandas Mahasiswa Pasca Sarjana STIE Mahardika Surabaya.

Menurut profesional muda ini, Budaya lokal Madura merupakan jati diri bangsa Indonesia dan cermin kebhinekaan sikap bangsa yang menghargai segala perbedaan. Bisa dilihat dari macam-macam tarian di Indonesia, seni tradisional, bahasa, adat istiadat, hingga upacara adat yang beragam.

Selanjutnya kata Winda, dengan berbagai macam-macam kebudayaan inilah, dapat menjadikan kekuatan tersendiri untuk menarik wisatawan dari domestik sampai internasioanal. Faktanya juga banyak orang asing tertarik untuk mempelajari budaya lokal Madura.

“Kalau orang luar saja ingin mengenal dan tertarik dengan budaya Madura. Kenapa kita yang asli orang Madura malah mencintai budaya luar yang kadang tidak patut kita tiru,” pungkas gadis yang memiliki hobi photograpy ini. (rud)
Profil Winda :
Nama : Dewi Martina Agustira
Nama Lain : Winda
Kelahiran : Sumenep, Madura, 16 Agustus 1990 di Sumenep
Agama : Islam
Orang tua : Alm. Sumartono – Rohmaniah
Pendidikan : Pasca Sarjana STIE Mahardika Surabaya
Pekerjaan : karyawan di BCA
Hobi : Photography, Membaca Novel, Nonton Film, Dengerin Musik
Motto Hidup : Talk Less Do More, Miskin Kata-kata Kaya Tindakan
Musik : Katy Perry, Agnes Monica
Idola : Alm Papa dan Muhammad Sang Rasul

Rabu, 28 Maret 2012

Komite Kerja Advokat Indonesia Desak Revisi KUHP

Jakarta - Naskah Rancangan Revisi Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (R-KUHP) saat ini menjadi prioritas Program Legislasi Nasional (Prolegnas) 2012. Namun sampai saat ini pemerintah dan DPR RI belum membahas RUU tersebut.

“Untuk kami dari Komite Kerja Advokat Indonesia (Tekad Indonesia) mendesak kepada pemerintah dan DPR RI untuk segera membahas RUU KUHP pada tahun 2012 ini,” ujar DR. Juniver Girsang, SH, MH., Ketua Badan Pengurus Tekad Indonesia, Jakarta (28/3) dalam siaran persnya, didampingi Harry Ponto, SH, LLM .

Menurut Advokat senior ini, RUU KUHP sudah menjadi prioritas pembahasan Prolegnas, Namun, kenyataannya belum ada tanda-tanda realisasi. Katanya, pemerintah terkesan masih lebih suka mengandalkan hukum warisan colonial, yang di negaranya sendiri (red-Belanda) telah dipeti-eskan.

“Untuk itu, lambatnya pembahasan R-KUHP ini menunjukkan pemerintah belum memiliki political will. Terutama dalam menunjang upaya modernisasi perlindungan hukum atas hak-hak asasi bagi warga Negara Indonesia.

Juniver Girsang juga menerangkan bahwa, sebenarnya naskah RUU-KUHP sudah hampir 30 tahun usia-nya. Sejak dipersiapkan tahun 1982 oleh Tim di Departemen Kehakiman, yang saat ini telah berubah nama menjadi Departemen Hukum dan HAM.

”Pada pertengahan tahun 1993, Naskah RUU-KUHP dianggap telah selesai dan semula akan diajukan ke DPR. Tetapi pengajuan pembahasan ini menjadi tertunda,” terangnya.

Kendala ini terjadi, kata Juniver, antara lain disebabkan meluasnya pro-kontra di media massa terhadap beberapa pasal dalam RUU-KUHP, terutama pasal-pasal dalam bab Kesusilaan.

”Pemerintah tak berdaya menghadapi tudingan dan kontroversi, sehingga Menteri Kehakiman saat itu, Oetojo Oesman, akhirnya menyerah dan menunda pengajuan naskah itu ke DPR. Oetojo Oesman lebih memilih untuk melakukan penggodokan kembali,” jelas pria setengah baya ini.

Ditambahkan, Harry Ponto, SH, LLM., Sekretaris Tekad Indonesia, secara substansial, pembaharuan KUHP yang dipelopori oleh Departemen Hukum dan HAM ini sarat dengan muatan mainstream moral, over criminalization, dan pasal-pasal yang bersifat victimless crime.

Bahkan, kata Harry Pontoh, ada kecenderungan RUU-KUHP yang ada saat ini justru mereduksi berbagai peraturan perundang-undangan yang bersifat khusus (lex spesialis), seperti UU tentang HAM, UU Pornografi, UU Trafficking, dan lain-lain.

”Ironisnya lagi, dalam konsideran RUU-KUHP tidak mempertimbangkan instrumen-instrumen HAM internasional yang telah di ratifikasi. Seperti, konvensi hak sipil dan politik (ICCPR), konvensi anti penyiksaan (CAT), konvensi CEDAW, dan lain-lain. Sehingga substansi pasal yang diatur banyak menyimpang dari standar-standar HAM internasional,” ujar Advokat Senior ini. (rud)

foto : Forum Indonesia

Senin, 26 Maret 2012

Winda: Talk Less Do More

Sosok Dewi Martina Agustira

Kalimat salah satu iklan rokok inilah yang terlontar dari bibir Winda. Perempuan muda berparas ayu ini memiliki nama lengkap Dewi Martina Agustira. Sebagai profesional muda, dirinya tentu dituntut kaya tindakan dan miskin kata-kata.

“Kurangi rasa takut, tumbuhkan keberanian dan kurangi bicara. Perbanyak kerja, hindari benci dan kuatkan cinta. Insya Allah yang terbaik adalah milikmu” ucap Winda, gadis kelahiran Sumenep, 16 Agustus 1990 ini.

Menurut Winda, cara memulai adalah dengan berhenti berbicara dan mulai melakukan. “Itulah syarat jika kita ingin sukses dan mencapai harapan yang kita inginkan.”

Selain itu kata Winda, untuk mencapai tujuan yang sempurna. Seseorang harus tekun dan jujur ketika melakukan pekerjaan, terutama saat menerima amanah.

“Jujur itu indah …,” terang Winda yang saat ini menjalani studi pasca sarjana di STIE Mahardika Surabaya.

Bank Central Asia Sumenep adalah pilihan kerjanya sehari-hari. Dalam bekerja dia tidak pernah mengeluh, kata-kata jenuh saja sudah dihapus dalam kamus pribadi Winda. Yang terpenting kata putri Alm Sumartono ini, terus melakukan yang terbaik.

“Menang, bukan berarti menjadi paling. Tetapi, menang adalah karena anda berusaha lebih baik dari sebelumnya,” tutur Winda dengan penuh senyum dan kebahagiaan.(rud)