Sabtu, 28 April 2012

Satu “Kartini Cerdas” di Panggung Parlementaria

Siti Fathonah Rachmaniyah Kartini Cerdas di panggung parlementaria

Sosok Siti Fathonah Rachmaniyah, 

Perempuan cantik berjilab ini merupakan satu-satunya “Kartini Muda dan Cerdas” yang tampil di pentas panggung palementeria. Ia merupakan satu perempuan diantara 45 anggota DPRD Kab. Bangkalan periode 2009-2014. Ia tak pernah merasa minder bergaul dan berjuang bersama komunitas kaum hawa.

“Bagi saya yang terpenting sebagai perempuan, kita harus mampu menujukkan karakter dan jati dirinya. Jangan pernah terombang-ambing oleh situasi dan keadaan,” kata Siti yang biasa dipanggil oleh keluarga dan teman-temannya.

Silvi: Tak Pernah Berhenti Mencintaimu


Sosok Silvhie Rachma Yulitha penuh aura dan pesona


Sosok Silvhie Rachma Yulitha

“Aku tak akan pernah berhenti mencintaimu meskipun sakit hati ini, karena lebih baik aku diam seribu bahasa. Aku tetap mencintaimu sampai kapanpun, meskipun asa ini hanya milikku.” 
Kalimat inilah yang terlontar dari bibir Silvhie Rachma Yulitha atau yang biasa dipanggil Silvi. Perempuan manis dan cantik, kelahiran Bogor, 24 Juli 1983. Ia menyatakan, kesetiaannya pada cinta walaupun harus menahan sakit. 
“Cinta harus dikatakan cinta, bukan sebaliknya. Walaupun orang yang kita cintai belum tentu mencintaiku. Sebab aku tak akan pernah berhenti mencintaimu, meskipun sakit hati ini,” kata Silvi dengan penuh optimisme meraih cinta.
Gadis yang saat ini bekerja di SIS Koperasi, Jakarta, sejak 2011 ini mengatakan, rasa rindu ini bercengkrama menggugah jiwa dan aku tak dapat mengelak lagi. Bahwa memang aku benar-benar merindukanmu.
“Kalau memang sudah rindu jangan ditahan lagi, segera ungkapkan saja. Nanti malah berbahaya loe..” terang profesional muda yang pernah bekerja di PT Swanish Bakery dan PT Megaria Mas Sentosa ini.
Silvi sebagai perempuan yang juga pernah marah ini, memiliki tiga hal yang tidak disuka. Diantaranya, dibohongin, digentak dan bergaul sama orang yang pelit.
“Adakah orang lain selain dirimu. Adakah cinta lain selain dirimu..? Nah loe pikir dech tuh. Loe yang mane,” terang Silvi berharap teman-temen-nya mengerti pada hal yang tidak disukainya.
Silvi sebagai orang yang banyak makan garam dalam pekerjaaan ini memiliki sebuah motto hidup. Motto tersebut yaitu, kesabaran serta keikhlasan adalah kunci dalam menjalani hidup ini. 



Tampak Silvhie Rachma Yulitha di atas perahu dengan baju batik
“Tanpa kedua kalimat di atas sulit kita meraih kesuksesan,” pungkas Silvi yang juga pernah bekerja di PT Laros Cosmetick dam PT Cospar Sentosa Jaya. 

Selain itu, Silvi yang senang dengan baju batik dan menyukai olahraga bilyard ini mengutarakan kebanggaannya pada dirinya sendiri. Bahkan ia pernah mengatakan, aku manis sekali dan aku cantik sekali.
“……lihat lah dan lihat semua. Pasti yang komentar pasti sirik semua, karena kecantikanku ini belum memudar,” ujar Silvi percaya diri. (rud)
Foto: Documen Silvhie Rachma Yulitha

Menulis untuk Tugas Sejarah

 
Oleh Syafrudin Budiman, SIP 
(Pimred www.liputanmadura.com)
Sosok Yazid R Passandre dilirik sejak dirinya menulis Novel Lumpur, Trilogi Tanah dan Cinta. Ia menceritakan tragedi semburan lumpur panas di Porong dan kisah duka derita korban.
Catatan kelam yang diringkas dalam sebuah novel ini mendadak laris dan banyak diburu orang. Mulai dari para korban, aktifis LSM, mahasiswa, dosen, dan politisi. Bahkan, para pejabat yang tangannya masih berlumuran lumpur Lapindo,  ikut pula membaca karyanya.
Yazid, panggilan pendeknya. Sosok pria penuh optimisme ini lahir 9 Januari 1978 dan dibesarkan di Pulau Sapeken, Sumenep, Jawa Timur. Sejak kecil hingga tamat Madrasah Tsanawiyah di Pesantren Abu Hurairah, ia menghabiskan waktunya di Pulau Sapeken, sebuah pulau mungil yang terletak di gugusan timur kepulauan Madura.
Yazid pernah berfikir untuk tidak melanjutkan sekolah formal dan pergi ke Bandung menyusul kakaknya. Beberapa bulan tinggal di Kota Kembang itu, sang kakak menyarankan agar Yazid mondok lagi di sebuah pesantren di Solo. Setahun nyantri di Pesantren Al-Mukmin Sukaharjo, Solo, Yazid hijrah ke Yogyakarta dan meneruskan sekolahnya di SMU Muhammadiyah.
“Saya mengenyam kegetiran dan lika-liku hidup sejak kanak sebagai orang pulau yang sehari-hari tinggal di tepi laut. Menimba secara langsung spirit kehidupan dari ayah, dan belajar tentang filosofi hidup dari laut: berpikir luas dan dalam, serta sanggup memangku beban.” Ujar Yazid mengenang kampung halamannya.
Selama sekolah di Yogyakarta, Yazid mulai berkenalan dengan dunia tulis menulis dan beberapa kali menjuarai lomba menulis seperti resensi buku dan karya tulis ilmiah. Yazid yang menyukai aktivitas volunteer aktif pula berorganisasi. Ia sempat mengabdi sebagai Direktur Eksekutif Pusat Pengembangan dan Pengkajian Strategi Dakwah Remaja (P3SDR) Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah.
Meskipun duduk di bangku sekolah menengah, Yazid tak canggung berkecimpung dan menggeluti pengalaman organisasi yang tidak lumrah bagi remaja seusianya waktu itu.
“Dalam hidup yang paling menentukan bukan usia atau jenjang pendidikan, tapi pola pikir. Saya yakin, usia tidak masuk daftar syarat kematangan dan keberhasilan. Hidup ini terlalu singkat untuk menunggu hal-hal besar yang bisa kita perbuat hari ini,” ungkap Yazid.
Anak ketiga dari pasangan H.M. Muhammad Ali Daeng Sandre dan Hj. Fauziah Badrul ini belum mengenyam pendidikan perguruan tinggi, karena segera memutuskan untuk langsung bergiat dalam dunia interpreneur. Beberapa tahun lamanya aktivitas kepenulisannya mandeg karena kesibukan Yazid bertualang dalam dunia usaha.
Pada usianya yang masih muda (27 tahun), Yazid sudah mengukir prestasi usaha yang cukup gemilang, meski beberapa tahun kemudian perumahan Alam Songsong Permai yang dikembangkannya di sebuah kawasan di Madura mengalami kemacetan. 
“Usaha itu memang sempat macet, tapi saya tidak merasa gagal. Saya yakin semua bisa ditata kembali untuk dilanjutkan dengan cara yang lebih baik. Saya mengalami kesulitan bukan karena terlalu cepat meraih keberhasilan, tapi karena memang ada yang salah dalam mengelola keberhasilan itu. Tentu, ini pengalaman berharga untuk meraih mimpi-mimpi saya yang tertunda,” tutur yazid.
Namun, di sela-sela masa sulitnya itulah Yazid menemukan mutiara yang hilang. Berawal dari kerinduannya kepada sosok kakeknya, Yazid kemudian memutuskan untuk menulis buku biografi sang kakek. Buku tersebut terbit dengan judul: DAENG SANDRE, Kilas Jejak Sang Pemimpin. Perjalanan sang kakek dan pengalaman kepemimpinannya sebagai kepala desa hingga akhir hayat, Yazid tumpah-tuturkan dalam buku itu.
“Keindahan yang saya rasakan dalam menulis adalah karunia besar yang Tuhan anugerahkan secara diam-diam ke dalam hidup saya. Saya tidak punya alasan untuk tidak mensyukurinya.” Kata pria penuh pesona ini.
Setahun berikutnya, Yazid menerbitkan buku kedua berbentuk novel dengan judul Tonggak Sang Pencerah (TSP). Novel sejarah yang menuturkan perjalanan hidup KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, ini Yazid tulis sebagai karya persembahan untuk mengenang jasa-jasa perjuangan sosok Pahlawan Kususma Bangsa dari Kauman itu bertepatan dengan momentum Muktamar Satu Abad Muhammadiyah (2010).
Pada 12 November 2011, Yazid melaunching Novel Lumpur. Ia mengaku bangga dengan ketiga buku yang telah ditulisnya itu, dan selalu mengatakan bahwa menulis adalah tugas sejarah yang harus terus dilanjutkan. “Dengan karya tulis, saya mengabdi kepada Tuhan, berbakti kepada kemanusiaan dan kehidupan.” (rud)

Kamis, 26 April 2012

Cerpen : Cinta Martina


“Tak peduli apa yang tengah dijalani,

jika seseorang benar-benar peduli kepadamu,

dia akan selalu temukan waktu untukmu.” (@pepatah)

“Bung Karno tak hanya bicara revolusi bro! Tapi juga bicara tentang cinta!” suaranya mengentak, memecah derai hujan memandikan lalang hijau di sekitar saung mungil tempat kami bercengkerama, berdiskusi, sambil lalu meretas mimpi-mimpi yang singgah di batok kepala kami.

Senja hampir pupus, sedangkan aku masih menatapnya. Pendar cahaya di bolamatanya meredup. Wajahnya beku. Ku coba mencari serpihan ketegaran dari sudut-sudut matanya yang kuyu. “Tapi bukan rasa yang meruntuhkan bro, atau yang memadamkan api revolusi.” Kataku, lirih menyahuti entakan kata-katanya.

Mendengar jawabanku selirih gerimis hujan yang mulai reda, ia tertegun. Duduk tak bergeming, berat menghela nafas, melepas sorot tatapan kosong. Beberapa lamanya ia membungkam.

Berhari-hari sudah aku mencengkeramai cerianya, mendengarkan kisah perburuan yang heroik, mahahidup, hangat berbuncah-buncah. Baru kali ini ia aku melihatnya “mati” tanpa inspirasi.

“Aku tak ingin membohongi diri sendiri, bahwa memujinya membuatku berarti.”

“Kau bisa puji dia setiap saat lewat fb, twitter, bbm, dan posting tulisan-tulisanmu?”

“Itu semua sudah ku lakukan?”

“Lalu, apa masalahnya?”

“Masalahnya tak kan ada lagi pujianku yang sampai kepadanya.”

“Maksudmu?”

“Kemarin, Martina tiba-tiba memutus hubungan bbm denganku, menghapus namaku di salah-satu pertemanan fb, bagaimana bisa ia membaca postingan tulisanku? Anehnya, dia tak pernah mengemukakan alasannya.”

“Mungkin dia tidak suka pujianmu?”

“Mungkin saja. Tapi, adakah di dunia ini orang yang tak suka dipuji? Misalnya, aku mengatakan lewat fb, twitter dan bbm. ‘Tatapanmu membuat jantungku berhenti berdetak’. Apa aku salah memuji tatapan matanya yang indah?”

“Ada lagi?”

“Misalnya, aku menulis. ‘Selain memiliki kecantikan ragawi, Martina mempunyai kecerdesan intelektual.’ Apa itu juga salah?”

“Apa selama ini Martina tahu, mengapa kau selalu memujinya?”

Ia kelu, termangu dengan mata berkaca-kaca.

Hingga pagi ini, ku masih setia menanti jawabnya, sambil menyimpan asa dalam deru haru yang mengharu-biru ketika teringat kata-katanya: Kawan, ku ingin menumpahkan segala pujian kepada Martina di Hari Kartini. Ini bukan hanya soal rasa terhadap wanita, tapi ini soal momentum …

http://fiksi.kompasiana.com/cerpen/2012/04/23/cinta-martina/

Pusi: “Madura, Akulah Darahmu”



“Madura, Akulah Darahmu” seutuhnya
Di atasmu, bongkahan batu yang bisu
Tidur merangkum nyala dan tumbuh berbunga doa
Biar berguling di atas duri hati tak kan luka
Meski mengeram di dalam nyeri cinta tak kan layu
Dan aku
Anak sulung yang sekaligus anak bungsumu
Kini kembali ke dalam rahimmu, dan tahulah
Bahwa aku sapi kerapan
Yang lahir dari senyum dan airmatamu

Seusap debu hinggaplah, setetes embun hinggaplah,
Sebasah madu hinggaplah
Menanggung biru langit moyangku, menanggung karat
Emas semesta, menanggung parau sekarat tujuh benua

Di sini
Perkenankan aku berseru:
- madura, engkaulah tangisku

bila musim labuh hujan tak turun
kubasuhi kau dengan denyutku
bila dadamu kerontang
kubajak kau dengan tanduk logamku
di atas bukit garam
kunyalakan otakku
lantaran aku adalah sapi kerapan
yang menetas dari senyum dan airmatamu
aku lari mengejar ombak, aku terbang memeluk bulan
dan memetik bintang-gemintang
di ranting-ranting roh nenekmoyangku

di ubun langit kuucapkan sumpah:
- madura, akulah darahmu.

(D. Zawawi Imron, 1996)


Foto:SAYA BANGGA JADI ORANG MADURA !!!

Minggu, 22 April 2012

Mengenal J. Farouk Abdillah, Wartawan Reformis Berbasis Lokal


Refleksi 1 Tahun Tabloid PRO RAKYAT

Oleh : Syafrudin Budiman, SIP (Analis Politik dan Media)
Saya mengenal J. Farouk Abdillah atau yang biasa dipanggil Faruk pada tahun 1998. Ketika itu semangat reformasi sedang digelorakan oleh Amien Rais dan tokoh politik nasional lainnya. Kira-kira antara tanggal 23-25 Mei 1998 saya bertemu dengan Saudara Faruk. Tepat beberapa hari setelah ulang tahun saya ke 18, pada 21 Mei 1998 atau bersamaan dengan momen jatuhnya Diktator Presiden Suharto.

Pertemuan itupun tidak dalam acara resmi atau acara silaturrahim. Tetapi saat saya sedang memimpin demonstrasi menggelorakan semangat reformasi 98 yang menuntut penuntasan kasus-kasus korupsi, pengadilan terhadap Suharto, Cabut Dwi Fungsi ABRI/TNI, pencabutan UU politik, kebebasan pers, serta penegakan demokrasi dan HAM.

Isu tersebut menggelinding ke Kabupaten Sumenep seperti kota-kota lainnya di Indonesia. Sementara kalau di Sumenep isu yang digelindingkan adalah pemberantasan korupsi di Sumenep, sembako murah, reformasi birokrasi dan mendesak turunnya Soekarno Marsaid (Bupati Sumenep saat itu).

Faruk saat reformasi berada di kelompok KRAN (Komite Reformasi untuk Amar Ma’ruf Nahi Mungkar) sebuah kelompok reformasi Sumenep. Dimana KRAN digagas bersama Alm. KH. Herman Bahaudin Mudhari (Putra dari KH. Bahaudin Mudhari dan saudara Achsanul Qosasi, saat ini Anggota DPR RI). Bersama aktifis reformasi lainnya KRAN menyerukan demontrasi, namun entah kenapa? pada subuh-subuh ada siaran radio di RRI dan Nada FM membatalkan demontrasi tersebut.

Tetapi dengan penuh semangat, saya bersama temen-teman lain-nya tetap melakukan demontrasi dan saya yang memimpin di depan. Dimana demontrasi tersebut secara resmi diterima pimpinan DPRD Sumenep, Polres dan menuju kantor Bupati mendesak Soekarno Marsaid mundur.

Ditengah massa yang sudah panas mendekati anarkis dan bahkan bisa terjadi chaos. J. Faruk Abdillah mendatangi saya. “Tenang saudara-saudara. Kami dari KRAN sudah bertemu dengan Muspida, terkait reformasi 98 di Kabupaten Sumenep. Harap sabar dan bisa menjaga situasi,” kata Faruk yang menggunakan topi, menemui saya dan temen-temen lainnya yang sedang demo di DPRD Sumenep.

Saya bilang kepada Faruk, “Massa sudah panas dan tetap ingin menyuarakan aspirasinya. Biarkan kami berdemostrasi, yang penting aman dan saya bertanggungjawab.” 

Singkat cerita setelah reformasi bergulir dan Presiden BJ. Habibie, waktu itu sudah mencabut UU paket politik lama menjadi UU politik berbasis multipartai. Kira-kira dari bulan Juli sampai September saya bertemu Faruk di beberapa proses pendirian Partai Amanat Nasional (PAN) Sumenep Waktu itu keluarga saya merupakan basis Muhammadiyah dan tentunya afiliasi politiknya mendukung berdirinya parpol baru yang di nahkodai Bapak Amien Rais, Ketua Umum PP Muhammadiyah.

Saya sering mengikuti bapak saya Zainuddin HR, yang kebetulan menjadi inisiator PAN Sumenep untuk menghadiri rapat-rapat formatur PAN Sumenep. Kebetulan Faruk juga salah satu inisiator dan disanalah saya sering berinteraksi dengan Faruk dalam wacana dan diskusi politik di tengah transisi demokrasi. Baik isu lokal Sumenep sampai isu nasional.

Setelah itu, Faruk tidak masuk dalam kepengurusan PAN dalam malah bergabung dalam LSM Akbar dan mendirikan lembaga independen pemantau pemilu bernama KIPP. Sementara bapak saya mundur dari PAN, karena adanya aturan PNS dilarang berpartai. Kebetulan bapak saya adalah PNS.

Paska reformasi Faruk lebih memilih netral dalam politik dan aktif di KIPP, apalagi dirinya memang lahir dan besar di media. Walupun sempat terlintas dalam benakknya untuk berjuang bersama-sama PAN. Namun untuk menghargai senior-senior di Muhammadiyah dan PAN. Ia lebih memilih jalan yang terbaik, yaitu jalan independen dan tetap aktif dalam ruang demokrasi yang lebih luas.

Wartawan Tiga Zaman

Faruk sendiri adalah wartawan yang lahir di tiga jaman. Mulai jaman orde baru Presiden Suharto, orde reformasi (Presiden BJ. Habibie, Presiden Gus Dur dan Presiden Megawati). Dan orde politik presidential (Presiden Susilo Bambang Yudhoyono – Wakil Presiden Jusuf Kalla sampai Presiden Susilo Bambang Yudhoyono – Wakil Presiden Boediono). 

Dirinya sudah menjadi wartawan sejak lulus SMP dan SMA. Dimulai sebagai wartawan lepas dan tulisannya sering kali dimuat diberbagai media di Jawa Timur. Bahkan guru dan teman-temannya banyak memuji tulisannya yang terstruktur indah penuh rangkaian kata dan bermakna. Baik dalam bentuk artikel, opini, feature maupun straight news.

Sebelumnya juga sejak SMP dan SMA dirinya sudah aktif dalam kegiatan jurnalistik dan organisasi Pelajar Islam Indonesia (PII). Saat itu dirinya sudah menulis cerpen dan puisi untuk di kirim ke majalah-majalah cerpen.

“Saya sering mendapatkan juara dalam penulisan cerpen. Lumayan dapat hadiah uang, bisa saya gunakan jajan dan uang SPP waktu sekolah,” ujar Faruk menceritakan secara gamblang kepada saya pada bulan Ramadan 2010 lalu.

Ia juga memulai karir jurnalistik secara formal dimulai dari wartawan dan reporter diberbagai radio Sumenep dan Pamekasan. Diantaranya, radio Nada FM (dulu Double One), Karimata FM, RGS FM dan Pesona FM. 

“Lewat media radio inilah saya banyak belajar interaksi dengan banyak orang. Selain itu di radio juga saya bisa menuangkan pikiran, tulisan dan puisi-puisi terbaik untuk bisa didengar banyak orang,” kata Faruk yang saat ini sudah menjadi Pimpinan Perusahaan sekaligus Pimpinan Redaksi Pro Rakyat.

Tak tahu harus dimulai dari mana. Yang pasti saya sebagai sahabat dan teman diskusi Faruk mengetahui dirinya pernah menjadi wartawan harian Duta Masyarakat. Media ini milik Chairul Anam yang saat itu Ketua DPW PKB Jawa Timur di jaman Pemerintahan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Walaupun harian Duta Masyarakat adalah media berbasis kultural NU dan PKB dan dimana PKB saat itu sebagai parpol berkuasa di Jawa Timur. Akan tetapi Faruk tetap konsisten menyuarakan kritik dan fakta yang kadang berbenturan dengan tokoh politik PKB. Sehingga pada puncaknya ia harus keluar dari harian Duta Masyarakat.

Isu-isu yang paling banter dan dikenang sampai saat ini, terkait tulisannya tentang kasus SUAP DAU (Dana Alokasi Umum), pengadaan kapal, pengadaan mess pemda, dan lain-lain. Tentu lewat tulisan-tulisan itu menjadi suara bising bagi penguasa pemerintahan saat itu. Dimana Bupati Sumenep setelah Bupati Soekarno Marsaid adalah KH. Ramdlan Sirajd dan Ketua DPRD-nya KH. Abuya Busro Karim yang sekaligus Ketua DPC PKB Sumenep.

Setelah dari harian Duta Masyarakat ia pindah ke media harian sore Surabaya Post (Surabaya News), kebetulan saya juga pernah bekerja disana hampir satu tahun di tahun 2003. Sehingga membuat saya semakin dekat dengan Faruk, dimana sebagai orang yang sesama orang pernah kerja di Surabaya Post. Waktu itu saya sudah bekerja di Radar Minggu sebagai Kabiro Madura, bersama Dadang D Iskandar.

Faruk menjadi wartawan di Surabaya Post lumayan lama dari 2005 sampai tahun 2009. Di sela-sela menjalani aktifitasnya di Surabaya Post, dirinya ada kegundahan hati untuk tampil dalam politik praktis untuk memperbaiki keadaan Sumenep yang stagnan. Sehingga ia bergabung di Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Sumenep dan memegang kendali Ketua PAC PPP Kecamatan Kota Sumenep.

Saat pemilihan legeslatif ia ikut bersaing dengan para elit PPP di Dapil I Sumenep (Talango, Kota, Batuan, Manding dan Kalianget). Kebetulan ia berada di nomer urut 3, akan tetapi nasib belum berpihak kepadanya. Ia gagal terpilih, mengingat tuhan belum menakdirkan Faruk untuk terpilih. Sepertinya Faruk lebih ditakdirkan menjadi wartawan selamanya.

Mengingat sesuatu hal prinsip dan terkait keterlibatannya di partai politik, Faruk tidak lagi Surabaya Post. Ia lebih memilih mengembangkan media harian Republika di Madura dan kebetulan saya ikut membantu Faruk di Bangkalan dalam pengembangan media Republika. Setelah berjalan sekitar setengah tahun, Republika belum bisa bersaing di Madura. Mengingat peminat dan situasi yang belum mendukung.

“Republika koran bagus dan penuh khasanah pemikiran intelektual Islam. Sayang belum bisa diterima luas di Madura. Saya lebih baik fokus mengembangkan media lokal saja di Madura secara umum dan khususnya Sumenep,” pungkas Faruk.

Mendirikan Tabloid Pro Rakyat

Banyak makan garam diberbagai media membuat Faruk berinisiatif mendirikan media sendiri berbasis lokal. Dengan mengajak beberapa jurnalis muda dan mahasiswa, faruk mendirikan tabloid Pro Rakyat. Tabloid ini dijadikan media suara aspirasi penderitaan rakyat. Terutama untuk menyuarakan kebenaran dan mengungkapkan fakta-fakta yang ada.

Alasan wartawan senior ini mendirikan Tabloid Pro Rakyat tersebut, agar semua tulisan-tulisannya yang mengungkap kebenaran tidak terkooptasi dan terpotong-potong. “Kalau memiliki media sendiri, tentu kita bisa bergerak bebas menyuarakan apa adanya sesuai fakta,” jelas Faruk.

Jika dilihat dari hasil cetak Tabloid Pro Rakyat selama ini yang sudah berjalan satu tahun. Memang tulisan-tulisan, opini-opini dan catatan-catatan di Pro Rakyat mengkungkapkan fakta apa adanya. Tak jarang memerahkan telinga dan memancing emosi orang-orang yang risih dengan berita aktual yang diungkapkan.
Karikatur, gambar dan foto-foto di Tabloid Pro Rakyat, juga bisa membuat mata merah dan dahi mengkerut dengan tatapan menjadi hampa. Bahkan teror, umpatan dan sms gelap sering melewati tidur lelapnya. Namun, Faruk tetap cuek dan tak peduli.

“Mengungkapkan kebenaran lewat tulisan adalah jihad. Matipun, akan menjadi mati sahid sebagai syuhada,” tegas Faruk terkait efek domino yang sering masuk kepada diri dan keluarganya.

Kemarin, tepat hari Kartini, 21 April 2012 bertempat di kantor yang sekaligus rumahnya di Jl. Dr. Cipto, Kolor, Sumenep. Faruk bersama kru dan sahabat-sahabatnya merayakan Ultah 1 Tabloid Pro Rakyat. Acara syukuran yang dimulai jam 08.08 WIB itu, tampak terlihat suasana oposisi dan perlawanan. Undangan yang hadir banyak terlihat para pembesar-pembesar LSM dan aktivis yang biasa kritis terhadap kebijakan pemerintah Sumenep.

Diantaranya yang hadir tokoh LSM, Sajali (Kelompok Peduli Sumenep), Nurul Fajar (Sekretaris Kelompok Peduli Sumenep), Fathor Rahim (Sumekar Coruption Watch) dan H. Dayat (LSM Sango). Sementara yang hadir dari kelompok Budayawan adalah R. Tajul Arifin, Yazid R Passandre (Novelis Lumpur Lapindo). Hadir juga tokoh Pemuda Kepulauan Sumenep Ali Wafa dan Junaidi, SH (Alumni PMII Sumenep).

Sedangkan dari kalangan media dan jurnalistik hadir, Agus Rasyid (Ketua PWI Sumenep) dan termasuk saya sendiri. Dari tokoh pendidikan hadir bapak Edy Muis “Totok” guru SMA 1 Sumenep yang kebetulan juga adalah guru SMA saudara Faruk.

Acara HUT yang sekaligus syukuran ini dibuka dengan pembacaan Surat Yasin dan sambutan Pimpinan Redaksi Tabloid Pro Rakyat, Saudara J. Farouk Abdillah sendiri sebagai tuan rumah. Selanjutnya sambutan  Agus Rasyid Ketua PWI Sumenep yang sekaligus Pembina Tabloid Pro Rakyat.

“Saya berharap kedepan Tabloid Pro Rakyat benar-benar konsisten menyuarakan aspirasi rakyat. Jangan sampai hanya menyuarakan suara penguasa saja,” kata Agus Rasyid disambut tepuk tangan undangan yang hadir.

Selain itu kata, Agus Rasyid yang perlu dievaluasi dari tabloid ini adalah, perluanya keseimbangan berita dan memenuhi unsur-unsur kode etik jurnalistik. Tabloid ini juga harus memenuhi kaidah-kaidah jurnalistik sesuai UU Pers. 

“Kami berharap kepada wartawan Tabloid Pro Rakyat dan media lainnya jangan pernah takut saat meliput. Selam wartawan atau pers tetap berpedoman dengan UU Pers. Karena barang siapa yang menghalagi media untuk meliput ada ancaman pidananya,” ujar Agus Rasyid pria berambut kriting ini.

Menurutnya juga, insan media saat ini ada kabar baik. Dimana Polri sudah melakukan MoU dengan PWI Pusat, dimana isinya tidak akan menerima aduan delik pers. “Setiap ada sengketa dengan pers harus di bawah ke dewan pers,” katanya.

Saya sebagai penulis secara pribadimengucapkan selamat ulang tahun ke 1 Tabloid Pro Rakyat. Semoga tetap konsisten dalam menyuarakan penderitaan rakyat. Semoga juga tetap bisa eksis sampai beberapa generasi. (rud)

http://sosok.kompasiana.com/2012/04/22/mengenal-j-farouk-abdillah-wartawan-reformis-berbasis-lokal/

Jumat, 20 April 2012

Penasaranku Pada Martina “Kartini” Modern

Oleh Pusawi Adiwijaya (Kompasianer) 
Menjelang tanggal 21 April, banyak kegiatan yang beraroma perempuan. Seperti Pelatihan Gender, Emansipasi Perempuan, dan diskusi mengenai Perempuan jadi Pemimpin. Di Kompasiana pun banyak tulisan teman-teman mengaenai Perempuan, seperti “Perempuan dalam Cahaya” oleh Goretti Ati, “Puisi Buat Emak … “ oleh Bain Saptaman, Kartini Tanpa Kebaya oleh Yasmin Nadhira, “Kartini (Era Internet), Emansipasi yang Keterlaluan!” oleh Bowo Bagus, “ Kartini - Kartini Dunia Maya … Ternyata Nyata” oleh Marla_Lasappe, dan yang lainnya. 
Kegiatan dan tulisan-tulisan yang beraroma perempuan tersebut, mengingatkan saya pada sebuah nama yang hampir setiap malam terdengar dari balik bilik. Orang yang punya nama itu, katanya seperti RA. KARTINI, cantik, ramah, pernah terpilih di subuah pemilihan even minat dan bakat, bekerja di tempat yang banyak uang, tidak mengenal cepek, tabah saat ditinggal ayahnya, dan kadang marah juga. Ini membuat saya penasaran. Benarkah itu? Nama itu, Winda. 
Rasa penasaran itu seakan menyuruh saya untuk mengenal lebih dekat pada sosok Winda, namun bagaimana caranya. Bertanya pada suara di balik bilik itu, tidak mungkin. Khawatir antara pemilik suara di balik bilik dengan Winda punya hubungan hati dekat. Bisa-bisa saya dimarahi karena cemburu, mungkin.
Dari balik bilik terdengar jua kata-kata “Liputan Winda dot com”, langsung saya mengetik di google, dengan tulisan liputanwinda.com. Muncul www.liputanwinda.com: “Memujimu Membuatku Berarti”, diklik, terlihat di monitor seperti gambar di bawah ini.
133494602839516490
Gambar liputanwinda.com. Sumber : Screen pribadi

Di dalamnya ada tulisan-tulusan yang tersembunyi, saya coba menelusuri dari atas sampai bawah dan membuka satu-persatu tulisan untuk mencari jawaban, siapa sebenarnya Winda itu. Ternyata Winda itu adalah seorang perempuan yang punya nama lengkap Dewi Martina Agustira yang lahir di Sumenep Madura pada tanggal 16 Agustus 1990 dari pasangan Ibu Romahniah dengan (Alm) Bapak Sumartono.

 

Benar suara dari balik bilik itu, dulu Winda pernah terpilih salah satu Cebbhing (red. Bahasa Madura, sebutan nama anak perempuan) Sumenep, pada tahun 2006-2007. Sekarang kuliah di Pasca Sarjana STIE Mahardika Surabaya dan bekerja di Bank Centra Asia Cabang Sumenep.

Ada beberapa hal yang perlu ditiru dari sosok seorang Winda, yaitu semangat kerja dan semangat kuliahnya. Semangat kuliahnya tidak mematikan semangat kerjanya, semangat kerjanya tidak mematikan semangat kuliahnya, justru keduanya dikolaborasikan saling memberi semangat.

Semangat kerja karena cinta-cita kuliah, semangat kuliah karena cita-cita kerja. Winda sosok perempuan yang tangguh, harus bolak-balik dan balik bolak, hehehe, antara Sumenep-Surabaya. Semangatnya itulah yang membuat saya menyebut  “Martina Kartini Modern”, karena semangat Winda hampir sama dengan Ibu Kartini Pendekar Bangsa itu. 

Semangat juang RA. Kartini melihat perjuangan wanita agar memperoleh kebebasan, otonomi dan persamaan hukum sebagai upaya dari gerakan yang lebih luas.

Sumber: http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2012/04/21/penasaranku-pada-martina-kartini-modern/

Sejenak Kehilangan Inspirasi di Kompasiana

Suatu cerita ada seorang sang penulis yang kehilangan inspirasi atau ide, pemikiran dan gagasan untuk dijadikan bahan tulisan. Sang penulis biasanya rajin mengeluarkan ide-ide, pemikiran dan gagasannya untuk dilontarkan dan didiskusikan kepada teman-temannya untuk dijadikan bahan inspirasi tulisan di Kompasiana.com

Dia mengatakan, “Aku sudah kehilangan inspirasi untuk bisa melahirkan karya-karya menarik,” kata sang penulis yang mulai tak enak pikiran, mengingat ispirasinya sudah lenyap tanpa jejak.

Biasanya sang penulis selalu mendiskusikan ide-idennya kepada kedua temannya, yaitu Pusawi dan Yazid yang menjadi teman diskusi di Kompasiana.com. Setelah dibahas tuntas biasanya, ide, pemikiran dan gagasan itu menjadi inspirasi dan dengan inspirasi itulah, sang penulis melahiran banyak tulisan dan karya.

Tulisan sang penulis cukup bagus dan menarik, jika dilihat rating tulisannya di kompasiana.com tidak terlalu rendah dan bahkan pernah mencapai 651 lebih dalam sebuah tulisan tentang olahraga, Pernah juga tulisannya berjudul “Utamakan Kecantikan Intelektual” menjadi tulisan yang paling inspiratif dan saat ini sudah dibaca 249 orang, Judul ini di Like banyak orang, di re-tweet di twitter.com dan di Share di facebook.com.

Selain itu sang penulis yang mulai kehilangan inspirasi itu juga sering menulis profil tentang temen dekatnya. Antara lain tulisannya di kompasiana.com yaitu berjudul, “Talk Less Do More,” “Madura Butuh Penguatan Budaya Lokal” dan “Memujimu Membuatku Berarti,” rata-rata tulisan ini di kompasiana.com sudah mencapai rata-rata 100 pembaca.

Sang penulis juga pernah menulis profil temennya Yazid seorang novelis muda terkenal dengan “judul Lumpur Lapindo.” Yazid selalu menjadi teman menulis untuk mencari dan menemukan ispirasinya. Sang penulis yang mulai kehilangan inspirasi ini, pernah menulis profil Yazid dengan judul “Menulis untuk Tugas Sejarah.” Dalam tulisannya ia memuji Yazid sebagai sosok yang menarik dan genius.

Berikut ini dua paragraf tulisan tentang Yazid. “Sosok Yazid R Passandre dilirik sejak dirinya menulis Novel Lumpur, Trilogi Tanah dan Cinta. Ia menceritakan tragedi semburan lumpur panas di Porong dan kisah duka derita korban. dan

“Catatan kelam yang diringkas dalam sebuah novel ini mendadak laris dan banyak diburu orang. Mulai dari para korban, aktifis LSM, mahasiswa, dosen, dan politisi. Bahkan, para pejabat yang tangannya masih berlumuran lumpur Lapindo, ikut pula membaca karyanya.” Itulah lead tulisan sang penulis tersebut, terkait Yazid.

Suatu waktu sang penulis di pagi hari jam 05.00 WIB tanggal 20 Maret 2012, menemui Pusawi salah satu temennya yang mendadak menjadi Kompasianer terkenal di kompasiana.com. Tulisan Pusawi pernah menembuh 953 lebih pembaca atau penulis di kompasiana.com.

“Sungguh hebat kamu Wih… bisa tembus menuju seribu pembaca,” kata sang penulis yang sudah kehilangan ispirasi tersebut.

Kebetulan saat sang penulis ketempat Pusawi, ada Yazid sang novelis muda, sehingga ketika sang sang penulis bertemu mereka menjadi agak lagi semangat untuk mau menulis lagi. Yazid juga sering menulis di Kompasiana.com dan tulisannya telah menembus 1000 lebih dengan judul “Si Miskin Menolong Orang Miskin.”

Sedikit diceritakan Pusawi Adijaya adalah mantan Ketua PC PMII Sumenep periode 2008-2009. Saat ini Pusawi bekerja di salah satu toko elektronik yang menjual barang dan peralatan komputer. Kebetulan disampingnya ada warnet I-Const Net, jadi semakin mempermudah mereka selama ini menuangkan ide, pikiran dan gagasannya kedalam sebuah tulisan.

Memasuki jam 05.30 WIB, sang penulis dengan wajah lemas mengeluh kepada Pusawi dan Yazid,

“Kawan gimana ini, saya tak bisa menulis lagi beberapa hari ini, saya kehilangan inspirasi,” ujar sang penulis menggerutu.

“Santai fren (kawan), Sebentar lagi kamu akan muncul ispirasi,” kata Yazid memberikan semangat.

Penulis Novel Tonggak Sang Pencerah ini juga mengatakan kepada sang penulis, bahwa ispirasi itu akan datang kalau kita tetap semangat dan konsisten.

“Katanya mau merobohkan tembok, ketemu polisi tidur saja sudah mundur,” sindir Yazid.

Sementara Pusawi juga ikut memberikan semangat. “Jangan patah semangat mas, dulu sampean yang motivasi saya untuk menulis di kompasiana.com, sampai tulisan saya banyak di baca orang. Kok malah sampean lemot sekarang,” ujar Pusawi mengetuk pikirang sang penulis.

Menerima masukan yang sedikit kritis, sang penulis mulai muncul ide, pemikiran dan gagasan yang dijadikannya inspirasi.

“Bagaimana kalau aku tulis judulnya seperti ini,” kata sang penulis sambil menatap langit menunggu inspirasinya datang.

“Oh saya ada inspirasi. Saya mau menulis tulisan yang berjudul: Sejenak Kehilangan Inspirasi di Kompasiana,” kata sang penulis langsung bergegas menuju komputer untuk menulis inspirasinya agar tak segera hilang ditelan kata-kata.

Jika dilihat dari sekelumit cerita pendek ini, sebenarnya sang penulis tak pernah kehilangan ide, pemikiran dan gagasannya yang menjadi inspirasi dirinya untuk menulis. Namun, sang penulis gundah merana, karena salah satu sahabatnya yang biasa menjadi inspirasi dirinya untuk menulis, meninggalkannya tanpa kabar yang jelas.

“Pertemanan di BB di delete, SMS tak pernah dibalas dan sekarang tak ada kabar,” kata sang penulis curhat kepada Pusawi dan Yazid.

“Sabar fren, setiap kesulitan pasti ada jalan. Kamu pasti bisa menemuinya lagi. Apalagi kamu tak pernah berbuat jelek kepadanya dan malah kamu sering memujinya dalam tulisan-tulisanmu. Apa yang kamu lakukan, belum tentu semua orang bisa melakukan,” tandas Yazid memberikan tausiah yang memberikan semangat.

Tetapi sang penulis menyadari, bahwa mungkin dirinya memiliki kesalahan yang juga tidak ia ketahuinya. Sang penulis sadar diri akan semuanya, dan ia bergegas menyelesaikan tulisannya yang telah diberinya judul.

Sang penulis bilang kepada Pusawi dan Yazid, bahwa suatu saat ia akan mendatangi sahabatnya tersebut dalam waktu beberapa hari kedepan dan menyatakan permintaan maafnya.

“Kalau dia sudah memaafkanku mungkin inspirasiku akan terus bertambah dan berkibar di langit angkasa yang luas,” pungkas sang penulis yang sudah menemukan inspirasinya yang hilang.

Perlu diketahui sang penulis tersebut adalah orang yang menulis cerita pendek ini. Ia menulis cerita pendek ini penuh semangat dengan judul yang inspiratif. Sejenak Kehilangan Inspirasi di Kompasiana. (*)

Selasa, 17 April 2012

Mengenang Ketua Dewan Kesenian Jatim dalam Festival Budaya Madura 2009

Oleh Syafrudin Budiman, SIP
(Pegiat Seni dan Budaya Madura)
From the album by Syafroedin Boediman
Festival Budaya Madura 2009
Syafrudin Budiman, SIP adalah nama panjang saya dan biasanya oleh teman-teman kecil saya di panggil Rudi. Saya sebagai orang Sumenep sangat mencintai Seni dan Budaya, walaupun secara pribadi lebih banyak konsen di bidang media dan politik. Namun hal itu tak menyurutkan saya memahami dan menjadi pelaku dunia kesenian dan budaya.
Pernah suatu waktu di bulan Juli 2009, saya diskusi dengan seniman terkenal Fauzi Asmara di rumahnya di Jl. Kartini, Pangarangan Simenep. Kebetulan dia adalah Gubernurnya seniman se-Jatim dan Fauzi Asmara adalah sosok Ketua Dewan Kesenia Jawa Timur (DKJT) yang penari handal yang sudah Go Internasional.
Ia mengatakan kepada saya, “Rud…ayo kita bikin even besar di Jatim dan kita tempatkan di Madura sebuah Festival Budaya Madura yang menjadi bagian rangkaian Festival Budaya Jawa Timur. Acara ini dalam memperingati Hari Ulang Tahun. Kamu even organizer-nya atau panitia-nya. Kita bikin semeriah mungkin 2 hari 2 malam,” kata Fauzi Asamara yang aktif membatu pakde Karwo dalam bidang seni.
Mendengar tawaran Fauzi, langsung saya terima. “Jangankan dananya cukup, kurangpun kita cari sponsor yang banyak agar acara ini sukses,” kata saya kepada Fauzi dengan penuh semangat.
Persis setelah proposal atau ToR (Term of Reference) jadi awal Agustus 2009. Kita usung even organizer dengan nama Plat M (Komunitas Bengkel Seni Madura). Sementara itu, puisiwan muda Lukman Hakim dari Pangesto menjadi Sekretaris panitia mendampingi saya yang ditunjuk menjadi Ketua Panitia.
Tepat satu bulan berikutnya, Bulan September 2009 kepanitian disusun dan ToR sudah selesai. Acara Festival Madura ini berlangsung dua hari. Hari pertama tanggal 20 Oktober 2009 dilaksanakan, Kirab Budaya yang menampilkan Musik Tong-Tong/Musik Daul, Tari, Fashion pesona Batik Madura, Musik Seronin, Hadrah, Drama Puisi Jalanan dan Pragaan Model. Yang paling banyak mendapat sambutan adalah penampilan pragaan busana batik Madura yang diperankan model cantik-cantik dari Pamekasan dan Sumenep.
Diteruskan malamnya dimulai tepat jam 20.30 WIB adanya panggung Festival Budaya Madura dan dihadiri 7 ribu-an massa yang haus hiburan .Sebelumnya, siangnya sebanyak 15 Mahasiswa melakukan dramatisasi puisi jalan diberbagai tempat. Diantaranya, Pasar Anom, Radio Gelora Sumekar (Live), Kantor Sat Pol PP dan Bank Rakyat Indnesia (BRI) Sumenep.
Sedangkan pada hari kedua, malam tanggal 21 Oktober 2009 dilaksanakan Pagelaran Tayup, Tari Topeng dan Tari Muang Sangkal. Sebelumnya, siangnya saya bersama Fauzi Asamara fokus pada Sarasehan Budaya di Aula Dinas Infokom Sumenep. Hadir sebagai pembicara, Faidlal Rahman Ali (Pengamat Wisata dan Tourism), DR. Ida Ekawati (Rektor Unija) dan salah lagi seniman dari Universitas Negeri Surabaya (dulunya IKIP Surabaya).
Berikut ada catatan kliping yang diambil di media Antara Jatim yang menjelaskan agenda dan kegiatan tersebut. Adapun judulnya Festival Madura 2009 Dimeriahkan oleh Pragaan Busana Batik.
Sebanyak 38 model mengenakan busana batik ikut tampil dalam acara pembukaan Festival Madura 2009 di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, Rabu (21/10/2009) sore. Festival Madura 2009 di Sumenep yang digagas Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jawa Timur yang bekerja sama dengan Komunitas Seni “Plat M” tersebut dibuka dengan pawai budaya dari Taman Adipura ke “Labang Mesem” di kawasan Pendapa Agung setempat.
Puluhan model yang mengenakan baju batik koleksi salah seorang perajin batik asal Kabupaten Pamekasan, Soraya, menjadi barisan paling depan pawai tersebut disusul barisan empat kelompok musik kontemporer dan penari.
“Kami sengaja melibatkan model yang mengenakan busana batik untuk lebih mengakrabkan batik kepada masyarakat,” kata Ketua Panitia Pelaksana Festival Madura 2009 Syafrudin Budiman yang kebetulan saya sendiri.
Apalagi, batik sudah ditetapkan oleh UNESCO sebagai warisan budaya tak benda yang dihasilkan Indonesia. “Ini harus disyukuri. Melibatkan model yang mengenakan busana batik adalah salah satu bentuk dari rasa syukur kami atas pengukuhan batik sebagai warisan budaya,” kata Syafrudin.
Sementara itu, Soraya menjelaskan, motif batik yang dikenakan para modelnya adalah motif “gaul”.
“Itu motif kontemporer yang kami buat khusus dipakai anak-anak muda. Untuk menembus pasar anak muda, kami harus menyesuaikan dengan selera anak muda,” katanya di Sumenep.
Ia menjelaskan, selama ini batik dianggap sebagai pakaian bagi orang tua dan tidak cocok digunakan anak muda.
“Kami berusaha mengubah kesan itu dengan cara membuat motif gaul. Melalui pembukaan Festival Madura 2009 ini, kami berusaha mengenalkan motif batik bagi anak muda tersebut,” kata Soraya.(ant)
Sementara itu acara ini juga diliput diberbagai media salah satunya lagi dengan judul: Melestarikan Budaya dalam Festival Madura.
 
From the album by Syafroedin Boediman
Festival Budaya Madura 2009
Mulai Rabu (21/10/2009), Festival Madura 2009 digelar di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur (Jatim). Ajang pelestarian kebudayaan Madura yang berlangsung hingga Kamis (22/10/2009) tersebut menampilkan beragam kesenian lokal yang menarik perhatian masyarakat. Festival Madura 2009 diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jatim bekerja sama dengan Komunitas Seni “Plat M”. Ketua Panitia Syafrudin Budiman mengatakan kegiatan ini merupakan upaya mengembangkan dan melestarikan kesenian dan budaya Madura. Karenanya, festival ini menampilkan aneka kesenian lokal yang merupakan warisan budaya Madura yang harus dijaga. Festival terbagi dalam tiga kegiatan utama, yakni pertunjukan kesenian khas, sarasehan, serta karnaval budaya.
Menikmati Karya Seni
Pada pertunjukan kesenian khas Madura, panitia menggelar pementasan topeng dalang dan musik saronen. Asal tahu, saronen merupakan iringan musik khas Madura yang terdiri atas bunyi-bunyian trompet dari kayu jati. Nah, pertunjukan ini digelar di Kantor Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Sumenep.
Selain di atas panggung, peserta Festival Madura juga tampil di sejumlah pusat keramaian, seperti di terminal dan pasar. Hal ini dilakukan guna memberikan kesempatan pada warga agar dapat menikmati karya seni Madura tanpa harus datang ke lokasi.
Sementara itu, sarasehan akan menghadirkan empat pembicara yang berasal dari Pimpinan Universitas Wiraraja Sumenep, Dewan Kesenian Jatim, serta Pengamat Budaya. Sebagai pamungkas acara, akan digelar pula karnaval budaya.
Dalam karnaval ini, nantinya para seniman yang tampil di Festival Madura akan berjalan kaki bersama. Mereka menempuh rute dari Taman Bunga ke Labang Mesem (pintu gerbang keraton Sumenep) di kawasan Pendapa Agung. Sarasehan: pertemuan yang diselenggarakan untuk mendengarkan pendapat para ahli mengenai suatu masalah dalam bidang tertentu. (Sumber: Berani, 22-Oct-2009).
Akankah kegiatan ini akan berlangsung lagi kedepannya. Mengingat ketika kami berusaha mengadakan kembali masih banyak kendala yang menantang. Namun kedepan diharapkan saya Syafrudin Budiman, Fauzi Asmara, Lukman Hakim dan beberapa pelaku seni lainnya, diminta tetap konsisten dalam mengawal kegiatan-kegiatan budaya seperti Festival Madura 2009.
Saya secara pribadi punya niat dan keinginan, setelah beberapa tahun ini akses jembatan Suramadu terbangun. Dimungkinkan ada sebuah Festival Budaya lagi yang bisa menarik wisatawan lokal maupun asing untuk datang ke Sumenep, Madura.
Jika wisatawan meningkat, maka secara otomatis kegiatan ekonomi berjalan optimal.  Lewat gerakan revitalisasi kebudayaan lokal juga diharapkan pertumbuhan ekonomi bisnis bisa menyerap tenaga kerja profesional. Tentu hal ini perlu dukunga semua pihak, baik pemerintah maupun sektor bisnis swasta yang bergerak di bidang travel dan tourism. (rud)

Kamis, 12 April 2012

“Memujimu Membuatku Berarti”


Memujimu Membuatku Berarti, Kalimat itulah yang terucap dari temen dekat Dewi Martina Agustira yang biasa dipanggil Winda. Gadis cantik penuh nuasa intelektual ini dengan santai menjawab, “He he he he, terima kasih,” jawab Winda, ringan dan penuh senyum kebahagiaan.

Menurut Winda dorongan dan semangat selalu datang dari temen-temenku untuk terus beraktifitas positif dan penuh optimisme. Dirinya yakin dengan optimisme bisa menambah spirit dalam hidupnya sehari-hari.

“Semua orang pasti punya masalah, semua orang pasti pernah kehilangan seseorang yang pernah dicintai dan semua orang pasti pernah tersakiti. Tetapi kita harus tabah dan terus bersujud kepada-Nya (Allah SWT),” ujar Winda yang saat ini bekerja di salah satu Bank Swasta di Madura.

Winda menambahkan, datangnya sebuah masalah tidak mungkin tiba-tiba. Datangnya sebuah masalah muncul karena adanya sebab akibat. Kata Winda, semua jalan hidup sudah ada yang mengatur dan menjadi takdir dari Yang Maha Kuasa.

“Kita sebagai insan manusia diharapkan terus berihtiar, sabar dan tawakkal,” terang gadis kelahiran Sumenep, 16 Agustus 1990 ini.

Winda yang baru saja kehilangan ayahandanya (Alm) Soemartono, meneguhkan spiritual dirinya bahwa, hidup adalah perjuangan menuju kebenaran. Untuk mencapai jalan tersebut diperlukan sebuah komitmen dan pengorban. Tanpa adanya semua itu, sulit bagi kita meraihnya.

“Langkah yang setengah-tengah akan digilas oleh waktu dan jaman. Momentum harus terus diraih menuju jalan terbaik, agar tiada penyesalan dan airmata,” tandas Winda yang saat ini menjalani studi Pasca Sarjana di STIE Mahardika Surabaya.

Winda yang biasa aktif sebagai relawan sosial dan pegiat seni budaya ini, dalam pesan akhirnya mengatakan, memperjuangkan kebenaran memang sulit. Tapi lebih sulit, kalau perjuangkan kebenaran tidak bisa diraih.

“Hidup akan lebih berarti dengan kejujuran, karena kebenaran rasa dan hati akan terus terpatri dalam diri,” urai Winda dengan penuh wajah kejujuran. (rud)

Rabu, 11 April 2012

Achsanul Qosasi : Saya Bangga Menjadi Orang Madura

Pamekasan - Achsanul Qosasi anggota DPR RI Dapil XI Madura, Jawa Timur menghadiri Seminar Nasional Empat Pilar Kebangsaan di SMKN Pamekasan, Sabtu (8/4). Acara yang dihadiri oleh KH. Kholilur Rahman, Bupati Pamekasan dan Ahmad Faisal Ketua DPD KNPI Pamekasan ini, diselenggarakan Ikatan Mahasiswa Bata-Bata (IMABA), Pamekasan.
Dalam acara itu Achsanul Qosasi melontarkan kalimat, Kebangsaan Madura Bagian dari Identitas Kebangsaan Indonesia. ia juga mengatakan, dirinya sangat bangga sebagai orang Madura.
“Bagaimanapun saya lahir dan dibesarkan di tanah tumpah darah Madura. Walaupun ada sebagian orang Madura yang merasa minder mengakui tanah kelahirannya, karena ejekan dan godaan yang memerahkan telinga, terkait kehidupan orang Madura,” terang Achsanul Qosasi yang juga Wakil Ketua Komisi XI DPR RI ini.
Menurut Achsaul Qosasi, orang Madura memiliki potensi yang cukup kuat dalam segala hal. Diantaranya, penduduk suku Madura tersebar di dunia. Karakter Madura juga memiliki sikap kerja keras dan tak pernah putus asa, apalagi tak mau disebut sebagai pengecut.
Madura juga kata Achsanul Qosasi, termasuk peringkat 5 suku tersukses di Indonesia dan jumlah rasnya terbesar ke empat di Indonesia. Setelah suku Jawa, Melayu dan Bugis. “Semua potensi ini harus dimaksimalkan untuk kesejahteraan dan pembangunan daerah tertingal di Madura,” ujarnya.
Dalam acara Seminar yang bertema; Membendung Radikalisme dengan Empat Pilar Kebangsaan ini, Achsanul Qosasi juga menyatakan, munculnya radikalisme akibat adanya otonomi daerah yang kebablasan. Dimana banyak ketidakadilan yang masih berlangsung setiap hari.
Namun, kata pria kelahiran Daramista, Lenteng, Sumenep ini, Pemerintah terus berupaya untuk mensejahterakan rakyatnya. Walau masih banyak yang belum bisa dipenuhi. Pemerintahan SBY-Boediono saat ini terus memprioritaskan pembangunan percepatan daerah tertinggal dan miskin.
“Buktinya Pemerintah Pusat melalui Badan Percepatan Wilayah Suramadu (BPWS) menyiapkan sekitar 295 Milyar  untuk anggaran pembangunan Madura. Akan tetapi dana yang tersebut hanya terserap 35 persen saja. Kedepan kita ajukan lagi dan perlu dimaksimalkan agar terserap makasimal,” terang pria yang diramaikan media menjadi kandidat Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI ini. (rud)

Mengenal Wanita Madura dari Sosok Winda


Oleh Hady Dede (Kompasianer)
Tak dapat saya bayangkan bila sosok wanita tak hadir di tengah kehidupan ini, alangkah garingnya. Peran wanita yang sangat penting digambarkan secara jelas dalam semua kitab suci, bahkan dalam Al-Qur’an, kata wanita diabadikan sebagai nama sebuah surah, yakni An Nisa. Wajar, jika makhluk Tuhan yang paling kita banggakan adalah seorang ibu, yang tak lain sosok wanita.
Tak berlebihan bila kita memiliki wanita-wanita yang kita kagumi dan idolakan. Saya sendiri sangat bersyukur sempat membaca liputanmadura.com (baca di sini), karena di media online inilah saya mengenal sosok Winda Martina, gadis masa kini yang masih konsisten mewarisi nilai-nilai luhur wanita Madura. Jarang sekali wanita modern dan profesional seperti Winda (sapaan akrab), apalagi masih muda dan cantik, mampu memegang dan memelihara warisan nilai-nilai lokal. Salah satu warisan luhur wanita Madura yang tampak dari sosok Winda adalah kehalusan tutur kata dan perangainya.
Winda Martina terpilih sebagai Kacong tor Cebbing, sebuah ajang pemilihan putra-putri (Madura) di Sumenep tahun 2006-2007.  Sehari-hari, Winda bekerja sebagai profesional sebuah bank swasta. Namun, kesibukan dan kelelahannya bekerja seharian, tak melunturkan kebugaran dan daya tarik penampilannya. Menariknya lagi, kecantikan luar yang dimiliki Winda ternyata bersumber dari dalam. “Kecantikan fisik itu semu kalau tidak lahir dari kecantikan hati.”
Inilah salah satu tulisan yang saya sukai tentang sosok Winda di portal Madura online.
Sosok Dewi Martina Agustira dikenal dengan panggilan Winda adalah seorang profesional muda, aktifis perempuan, relawan sosial, entertainer, photography dan, pegiat di bidang seni dan budaya. Winda adalah seorang cebbing Sumenep yang lahir dari pasangan Rohmaniah asal Banyuwangi daratan paling timur di Pulau Jawa dan (Alm) Sumartono asal Sumenep, daratan timur di Pulau Madura.
Masa kecil gadis yang cantik dan periang ini waktunya banyak dihabiskan di Jl. Trunojoyo Gang VIII-A, Kolor, Kabupaten Sumenep. Madura, Jawa Timur. Sebuah daerah wisata yang kaya akan budaya lokal yang memiliki identitas tersediri praktek kebudayaannya. Baik itu bahasa, tradisi, perilaku, seni dan kebudayaan lokalnya.
Namun Winda, sering mengalami kegelisahan dan kegundahan. Akankah kebudayaan lokal Sumenep khususnya dan Madura pada umumnya bisa bertahan di daerahnya sendiri? Bagaimana dengan serbuan budaya lokal Indonesia dari budaya asing. Apalagi di era liberalisasi informasi dan ekonomi, paska berdirinya Jembatan Suramadu?
Gadis kelahiran 16 Agustus 1990 ini mengatakan, sepertinya perlu kesadaran tiap warga Madura agar lebih mencintai kebudayaan lokal ketimbang budaya luar. Jika melihat kondisi sekarang ini, terlihat banyak sekali anak-anak muda yang tidak peduli lagi dengan budaya lokal Madura.
“Banyak anak muda jarang menggunakan bahasa halus Madura, atau bahasa yang penuh tatakrama untuk menghargai semua orang. Terutama yang dituakan dan dihormati,” ujar Winda yang juga aktif sebagai relawan sosial dan organisasi perempuan.
Penggemar Agnes Monica ini sering bertanya, apakah kebudayaan lokal asli Madura sudah tidak menarik lagi buat anak-anak muda saat ini? Padahal kata Winda, dengan mempertahankan budaya Madura sendiri, bisa membendung masuknya kebudayaan asing. Budaya lokal adalah tonggak pemersatu bangsa dan diperlukan peran banyak pihak untuk peduli pada topik ini.
“Kebudayaan lokal yang berasal dari tiap sudut di Madura dapat berperan sebagai pembentuk keberagaman. Hal ini menarik mengingat masing-masing memiliki keunikan yang tidak dimiliki daerah lain di Indonesia, bahkan dunia internasional,” tandas Mahasiswa Pasca Sarjana STIE Mahardika Surabaya.
Menurut profesional muda ini, Budaya lokal Madura merupakan jati diri bangsa Indonesia dan cermin kebhinekaan sikap bangsa yang menghargai segala perbedaan. Bisa dilihat dari macam-macam tarian di Indonesia, seni tradisional, bahasa, adat istiadat, hingga upacara adat yang beragam.
Selanjutnya kata Winda, dengan berbagai macam-macam kebudayaan inilah, dapat menjadikan kekuatan tersendiri untuk menarik wisatawan dari domestik sampai internasioanal. Faktanya juga banyak orang asing tertarik untuk mempelajari budaya lokal Madura.
“Kalau orang luar saja ingin mengenal dan tertarik dengan budaya Madura. Kenapa kita yang asli orang Madura malah mencintai budaya luar yang kadang tidak patut kita tiru,” pungkas gadis yang memiliki hobi photograpy ini. (rud)

Profil Winda :
Nama : Dewi Martina Agustira
Nama Lain : Winda
Kelahiran : Sumenep, Madura, 16 Agustus 1990 di Sumenep
Agama : Islam
Orang tua : Alm. Sumartono – Rohmaniah
Pendidikan : Pasca Sarjana STIE Mahardika Surabaya
Pekerjaan : karyawan di BCA
Hobi : Photography, Membaca Novel, Nonton Film, Dengerin Musik
Motto Hidup : Talk Less Do More, Miskin Kata-kata Kaya Tindakan
Musik : Katy Perry, Agnes Monica
Idola : Alm Papa dan Muhammad Sang Rasul

Winda: Utamakan Kecantikan Intelektual

Sosok Dewi Martina Agustira

Menjadi seorang perempuan cantik tidak harus mengedepankan kecantikan fisik dan wajah semata. Namun kecantikan dalam bentuk kecerdasan intelektual atau Intelegensi Quotient (IQ) lebih diutamakan guna menambah esensi kecantikan.

Hal ini disampaikan gadis bernama Dewi Martina Agustira, perempuan kelahiran, Sumenep, 16 Agustus 1990. Ia biasa dipanggil oleh teman-temannya dengan nama Winda.

Menurut gadis yang pernah mengikuti Pemilihan Kacong tor Cebbing Sumenep 2006-2007 ini mengatakan, kecantikan pada hakikatnya merupakan manipulasi dan pandangan pada diri seseorang perempuan tersebut.

“Akan tetapi kecantikan perempuan paling ideal adalah dibarengi kecerdasan intelektual. Dimana kecantikan itu tidak akan pernah luntur dan dikenang sepanjang masa,” ujar Winda dengan senyum tipisnya yang begitu mempesona.

Winda juga menerangkan bahwa, kecantikan intelektual merupakan harapan semua perempuan, dengan mengedepankan sosok intelektual dan kecantikan diri, yang tak kasat mata. Serta didukung oleh imajinasi diri untuk memberikan opsi pola sehari-hari.

“Bagi perempuan aktif, yang tetap ingin memperhatikan penampilan diri masing-masing. Sangatlah penting sebuah inspirasi untuk menantang asumsi sensualitas dan feminitas semata,” terang mahasiswa pasca sarjana STIE Mahardika.

Winda juga mengatakan bahwa, banyak orang berkata bahwa kejujuran telah sirna dan banyak orang berkata kebenaran mulai luntur. Tetapi kuyakin jujur dan benar tak pernah mati. “Karena jujur dan benar itu indah. Terutama bagi perempuan mengedepankan kecerdasan intelektual,” pungkas gadis yang aktif sebagai profesional muda ini.

Penggemar Katty Pary ini juga menambahkan bahwa, di era kebebasan informasi dan tehnologi  saat ini, diharapkan perempuan Indonesia memiliki kompetensi. Supaya nantinya memiliki kemampuan.daya saing yang tinggi di era global.

“Jika perempuan Indonesia maju. Maka kedepan pembangunan bangsa ini lebih maju lagi,” ucap  Winda dengan wajah penuh optimisme. (rud)

Rabu, 04 April 2012

Madura Butuh Penguatan Budaya Lokal

Sosok Dewi Martina Agustira dikenal dengan panggilan Winda adalah seorang profesional muda, aktifis perempuan, relawan sosial, entertainer, photography dan, pegiat di bidang seni dan budaya. Winda adalah seorang cebbing Sumenep yang lahir dari pasangan Rohmaniah asal Banyuwangi daratan paling timur di Pulau Jawa dan (Alm) Sumartono asal Sumenep, daratan timur di Pulau Madura.

Masa kecil gadis yang cantik dan periang ini waktunya banyak dihabiskan di Jl. Trunojoyo Gang VIII-A, Kolor, Kabupaten Sumenep. Madura, Jawa Timur. Sebuah daerah wisata yang kaya akan budaya lokal yang memiliki identitas tersediri praktek kebudayaannya. Baik itu bahasa, tradisi, perilaku, seni dan kebudayaan lokalnya.

Namun Winda, sering mengalami kegelisahan dan kegundahan. Akankah kebudayaan lokal Sumenep khususnya dan Madura pada umumnya bisa bertahan di daerahnya sendiri? Bagaimana dengan serbuan budaya lokal Indonesia dari budaya asing. Apalagi di era liberalisasi informasi dan ekonomi, paska berdirinya Jembatan Suramadu?

Gadis kelahiran 16 Agustus 1990 ini mengatakan, sepertinya perlu kesadaran tiap warga Madura agar lebih mencintai kebudayaan lokal ketimbang budaya luar. Jika melihat kondisi sekarang ini, terlihat banyak sekali anak-anak muda yang tidak peduli lagi dengan budaya lokal Madura.

“Banyak anak muda jarang menggunakan bahasa halus Madura, atau bahasa yang penuh tatakrama untuk menghargai semua orang. Terutama yang dituakan dan dihormati,” ujar Winda yang juga aktif sebagai relawan sosial dan organisasi perempuan.

Penggemar Agnes Monica ini sering bertanya, apakah kebudayaan lokal asli Madura sudah tidak menarik lagi buat anak-anak muda saat ini? Padahal kata Winda, dengan mempertahankan budaya Madura sendiri, bisa membendung masuknya kebudayaan asing. Budaya lokal adalah tonggak pemersatu bangsa dan diperlukan peran banyak pihak untuk peduli pada topik ini.

“Kebudayaan lokal yang berasal dari tiap sudut di Madura dapat berperan sebagai pembentuk keberagaman. Hal ini menarik mengingat masing-masing memiliki keunikan yang tidak dimiliki daerah lain di Indonesia, bahkan dunia internasional,” tandas Mahasiswa Pasca Sarjana STIE Mahardika Surabaya.

Menurut profesional muda ini, Budaya lokal Madura merupakan jati diri bangsa Indonesia dan cermin kebhinekaan sikap bangsa yang menghargai segala perbedaan. Bisa dilihat dari macam-macam tarian di Indonesia, seni tradisional, bahasa, adat istiadat, hingga upacara adat yang beragam.

Selanjutnya kata Winda, dengan berbagai macam-macam kebudayaan inilah, dapat menjadikan kekuatan tersendiri untuk menarik wisatawan dari domestik sampai internasioanal. Faktanya juga banyak orang asing tertarik untuk mempelajari budaya lokal Madura.

“Kalau orang luar saja ingin mengenal dan tertarik dengan budaya Madura. Kenapa kita yang asli orang Madura malah mencintai budaya luar yang kadang tidak patut kita tiru,” pungkas gadis yang memiliki hobi photograpy ini. (rud)
Profil Winda :
Nama : Dewi Martina Agustira
Nama Lain : Winda
Kelahiran : Sumenep, Madura, 16 Agustus 1990 di Sumenep
Agama : Islam
Orang tua : Alm. Sumartono – Rohmaniah
Pendidikan : Pasca Sarjana STIE Mahardika Surabaya
Pekerjaan : karyawan di BCA
Hobi : Photography, Membaca Novel, Nonton Film, Dengerin Musik
Motto Hidup : Talk Less Do More, Miskin Kata-kata Kaya Tindakan
Musik : Katy Perry, Agnes Monica
Idola : Alm Papa dan Muhammad Sang Rasul